Lifekit.id logo long png 1

11 langkah cara bikin marketing plan terlengkap + checklist

marketing
Last updated: 
March 29, 2025
11 langkah marketing plan brand sukses di Indonesia

Pernah dengar cerita brand yang jor-joran promosi tapi ujung-ujungnya rugi besar? Atau bisnis yang kelihatan ramai di awal, tapi mendadak sepi karena salah strategi? Nah, salah satu penyebab utamanya adalah marketing plan yang asal jadi atau bahkan nggak ada sama sekali.

Marketing plan itu bukan sekadar "rencana jualan," tapi peta jalan buat bisnismu. Tanpa rencana yang matang, semua upaya marketing bisa jadi buang-buang waktu dan uang. Salah langkah sedikit, hasilnya bisa jauh dari ekspektasi.

Tapi tenang, bikin marketing plan yang efektif bukan ilmu roket. Di artikel ini, kita bakal bahas 11 langkah yang sering dipakai brand-brand sukses di Indonesia buat memastikan strategi marketing mereka nggak cuma jalan, tapi juga menghasilkan. Berikut step by stepnya:

  1. Analisis tujuan bisnis tahun ini
  2. Turunkan tujuan bisnis jadi tujuan marketing
  3. Kenali target audiens dengan detail
  4. Lakukan riset kompetitor
  5. Tentukan Unique Selling Proposition (USP)
  6. Pilih channel pemasaran yang tepat
  7. Buat strategi konten yang menarik
  8. Tetapkan anggaran marketing
  9. Rencanakan campaign & promosi tahunan
  10. Pantau & evaluasi kinerja marketing
  11. Adaptasi & optimasi strategi secara berkala

Ingin tahu cara menjalankan setiap langkah di atas? Scroll ke bawah untuk penjelasan lengkap dan checklist siap pakai.

Disclaimer: semua simulasi ini hanya contoh, dan tidak sepenuhnya akurat. Simulasi ini hanya dibuat agar lebih mudah dimengerti dengan pendekatan aksi langsung.

1. Cara Menganalisis Tujuan Bisnis untuk Tahun Ini

Sebelum merancang strategi marketing, pastikan dulu bisnisnya mau ke mana. Marketing bukan sekadar soal promosi, tapi harus membantu perusahaan mencapai target bisnisnya.

Misalnya, sebuah brand fashion lokal ingin meningkatkan pendapatan sebesar 30% tahun ini. Tapi, apakah target ini realistis? Bagaimana cara mencapainya? Untuk mengetahuinya, kita perlu menganalisis bisnis secara menyeluruh.

1. Evaluasi Kinerja Bisnis Tahun Lalu

Sebelum menentukan strategi baru, lihat dulu apa yang sudah terjadi:

  • Pendapatan & pertumbuhan: Apakah bisnis berkembang pesat atau justru stagnan?
  • Produk & kategori: Mana yang paling laku? Mana yang performanya buruk?
  • Saluran penjualan: Apakah marketplace, website, atau toko fisik yang paling berkontribusi?
  • Promo & strategi marketing: Apakah ada promo yang terlalu sering digunakan hingga menurunkan profitabilitas?

📌 Contoh Analisis:

  • Pendapatan tahun lalu naik 15%, tetapi margin profit turun karena terlalu banyak diskon.
  • Produk fashion kasual menjadi best-seller, sementara kategori premium hanya menyumbang 10% penjualan.
  • TikTok Shop menunjukkan peningkatan traffic, tetapi konversinya masih rendah jika tidak ada promo.

💡 Insight: Jika ingin meningkatkan pendapatan 30%, kita harus mencari cara untuk meningkatkan penjualan tanpa bergantung pada promo besar-besaran.

2. Analisis Customer & Target Pasar

Apakah target pelanggan masih sama seperti sebelumnya, atau ada perubahan?

Baca ini sebelumnya: Kenapa Data-Driven Mindset itu Wajib dalam Marketing

Cara mengeceknya:

  • Cek data pelanggan lama: Apakah mereka masih aktif? Apakah mereka melakukan repeat order?
  • Lihat tren demografi: Apakah ada pergeseran usia, gender, atau preferensi?
  • Pantau perubahan perilaku belanja: Apakah pelanggan lebih suka beli di marketplace dibanding website?

📌 Contoh Analisis:

  • Pelanggan setia masih ada, tetapi banyak yang mulai mencoba belanja di TikTok Shop karena promosi flash sale.
  • Website masih menjadi kanal utama untuk repeat order, tetapi traffic stagnan dibanding tahun lalu.
  • Usia pelanggan rata-rata masih 25-34 tahun, tetapi ada peningkatan minat dari segmen 18-24 tahun yang lebih aktif di TikTok.

💡 Insight:
Jika kita ingin memanfaatkan TikTok Shop tanpa harus mengandalkan promo, maka kita perlu membangun engagement yang lebih kuat di sana.

  • Gunakan strategi konten edukatif dan inspiratif agar brand tetap menarik meskipun tanpa diskon.
  • Optimalkan live shopping dengan storytelling yang lebih kuat, bukan sekadar perang harga.
  • Kolaborasi dengan KOL/influencer untuk meningkatkan awareness dan daya tarik tanpa harus memberikan potongan harga besar.

3. Cek Kompetitor & Posisi Brand di Pasar

Tujuan bisnis juga harus mempertimbangkan persaingan di industri. Jika ingin tumbuh 30%, kita harus tahu apakah ada ruang di pasar untuk mencapai itu.

Cara menganalisis kompetitor:

  • Cek strategi marketing mereka: Apakah mereka fokus di marketplace, media sosial, atau offline?
  • Lihat harga & positioning: Apakah produk mereka lebih murah, lebih premium, atau sama?
  • Analisis USP (Unique Selling Proposition): Apa yang membuat brand kita berbeda dan lebih unggul?

📌 Contoh Analisis:

  • Kompetitor utama mulai agresif di TikTok Shop dengan strategi live shopping yang menarik.
  • Brand kita unggul dalam kualitas bahan, tetapi belum terlalu menonjolkan keunggulan ini dalam marketing.
  • Harga produk kita berada di kelas menengah, tetapi banyak pesaing mulai menawarkan produk serupa dengan harga lebih murah.

💡 Insight: Jika ingin meningkatkan penjualan tanpa perang harga, kita perlu:

  • Menonjolkan kualitas produk & storytelling dalam live shopping.
  • Membangun brand engagement yang lebih kuat di TikTok agar pelanggan datang bukan hanya karena promo.
  • Menggunakan pendekatan entertainment-commerce, seperti live shopping yang interaktif dan informatif.

4. Evaluasi Kapasitas Operasional & Finansial

Bukan hanya soal strategi marketing, tetapi apakah bisnis punya kapasitas untuk mendukung pertumbuhan ini?

Yang perlu dicek:

  • Stok & supply chain: Jika penjualan meningkat 30%, apakah stok dan supplier siap?
  • Tim & SDM: Apakah tim marketing, sales, dan customer service cukup kuat untuk menangani pertumbuhan ini?
  • Budget & cash flow: Apakah ada cukup dana untuk investasi di iklan, influencer, atau campaign besar?

Baca juga ini: Iklan Digital Boros? Optimalkan Anggaran dengan Data-Driven Ads!

📌 Contoh Analisis:

  • Tahun lalu sering kehabisan stok saat promo besar, sehingga banyak order yang tidak bisa dipenuhi.
  • Budget marketing masih terbatas, jadi strategi organik dan komunitas bisa lebih diutamakan sebelum meningkatkan belanja iklan.
  • Tim customer service perlu diperkuat karena makin banyak pertanyaan dari pelanggan di TikTok Shop yang tidak terjawab.

💡 Insight: Jika ingin meningkatkan pendapatan 30%, kita harus memastikan:

  • Stok selalu siap agar bisa memenuhi demand tanpa hambatan.
  • Customer service responsif agar pelanggan tetap loyal, terutama di TikTok Shop.
  • Fokus ke strategi organik dulu (misalnya live shopping & konten), sebelum membakar budget iklan besar-besaran.

5. Validasi dengan Data & Feedback

Sebelum menetapkan target final, pastikan asumsi yang dibuat benar-benar berdasarkan data dan bukan sekadar ekspektasi.

Cara validasi:

  • Gunakan data historis & proyeksi: Jangan hanya mengandalkan feeling, tetapi cek tren penjualan dan seasonality.
  • Tanya langsung ke pelanggan: Bisa lewat survey, komentar di media sosial, atau review produk.
  • Diskusi dengan tim internal: Pastikan semua tim (marketing, sales, finance, dan operasional) sejalan dengan target ini.

📌 Contoh Analisis:

  • Data menunjukkan bulan September–November selalu jadi puncak penjualan → strategi marketing harus lebih agresif di Q4.
  • Pelanggan sering komplain soal keterbatasan ukuran produk → bisa jadi peluang untuk memperluas variasi ukuran.

💡 Insight: Dengan memahami tren penjualan dan masukan pelanggan, target bisnis bisa dibuat lebih realistis dan strategi marketing lebih tepat sasaran.

Apakah Target Bisnis Realistis?

Setelah semua analisis ini, barulah kita bisa menjawab: Apakah target “meningkatkan pendapatan 30%” itu masuk akal?

Jika jawabannya ya, maka kita bisa lanjut ke langkah berikutnya: menyusun tujuan marketing yang lebih spesifik dan actionable.

Namun, jika setelah analisis ternyata target ini terlalu tinggi, mungkin perlu disesuaikan atau dibuat lebih bertahap.

Asumsi Data

Pendapatan tahun lalu: Rp10 miliar
Distribusi pendapatan tahun lalu:

  • TikTok Shop: Rp2 miliar (20%)
  • Website: Rp3 miliar (30%)
  • Marketplace: Rp5 miliar (50%)

Target peningkatan pendapatan: 30% dari Rp10 miliar = Rp3 miliar tambahan
Total pendapatan yang harus dicapai: Rp13 miliar

Strategi Peningkatan Pendapatan

1. Fokus Utama: Meningkatkan TikTok Shop Secara Signifikan (50% Growth dalam 1 Tahun)

  • Karena pelanggan banyak yang pindah ke TikTok Shop, maka kita perlu lebih agresif di channel ini.
  • Target: 50% pertumbuhan dalam 1 tahun
  • Pendapatan baru dari TikTok Shop:
    Rp2 miliar × 1.5 = Rp3 miliar
  • Kenaikan: Rp1 miliar

2. Optimasi Website dengan Strategi Retargeting (Minimal Pertahankan Pendapatan, Idealnya Naik 10%)

  • Karena sebagian pelanggan pindah ke TikTok Shop, kita tidak bisa berharap pertumbuhan tinggi dari website.
  • Namun, kita bisa mempertahankan pelanggan loyal dengan strategi retargeting dan promo eksklusif.
  • Target: 10% growth dalam 1 tahun
  • Pendapatan baru dari Website:
    Rp3 miliar × 1.1 = Rp3,3 miliar
  • Kenaikan: Rp300 juta

3. Marketplace: Fokus pada Produk dengan Margin Lebih Tinggi (Minimal Pertahankan Pendapatan, Idealnya Naik 10%)

  • Alih-alih mengejar volume, kita bisa fokus pada produk-produk dengan margin lebih tinggi.
  • Marketplace tetap kuat, tetapi kita tidak bisa mengandalkan diskon besar-besaran.
  • Target: 10% growth dalam 1 tahun
  • Pendapatan baru dari Marketplace:
    Rp5 miliar × 1.1 = Rp5,5 miliar
  • Kenaikan: Rp500 juta

Total Peningkatan Pendapatan

  • TikTok Shop: Rp1 miliar
  • Website: Rp300 juta
  • Marketplace: Rp500 juta
  • Total: Rp1,8 miliar

Masih kurang Rp1,2 miliar untuk mencapai target Rp13 miliar.

Bagaimana Menutup Selisih Rp1,2 Miliar?

Karena kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan channel utama, maka kita perlu strategi tambahan:

4. Meningkatkan Repeat Order dari Pelanggan Setia (Tambahan Rp600 Juta)

  • Fokus ke pelanggan yang sudah pernah beli.
  • Buat program membership atau bundling untuk meningkatkan repeat order.
  • Target repeat order naik 30% dari total pelanggan aktif.
  • Estimasi kenaikan pendapatan: Rp600 juta

5. Ekspansi ke Channel Baru: Live Shopping di Instagram & WhatsApp (Tambahan Rp600 Juta)

  • Banyak brand sukses menggunakan Instagram Live Shopping & WhatsApp untuk meningkatkan engagement.
  • Target: Konversi dari live shopping bisa mencapai tambahan 5% dari total penjualan.
  • Estimasi kenaikan pendapatan: Rp600 juta

Target 30% Tercapai dengan Strategi Ini

✅ TikTok Shop → Rp1 miliar
✅ Website → Rp300 juta
✅ Marketplace → Rp500 juta
✅ Repeat Order → Rp600 juta
✅ Live Shopping → Rp600 juta
Total Kenaikan Pendapatan: Rp3 miliar

Dengan strategi ini, target 30% peningkatan pendapatan menjadi lebih realistis dan sesuai dengan tren pelanggan yang berpindah ke TikTok Shop.

Tujuan marketing harus lebih spesifik pada bagaimana strategi pemasaran membantu mencapai target bisnis tersebut. Jadi, setelah tahu bahwa tujuan bisnis adalah meningkatkan pendapatan 30%, sekarang kita harus bikin tujuan marketing yang jelas dan terukur.

Baca juga ini: Marketing Funnel: Pengertian, Model, dan Strategi Terbaik

2. Dari Tujuan Bisnis ke Tujuan Marketing

Tujuan Bisnis: Meningkatkan pendapatan dari Rp10 miliar → Rp13 miliar dalam 1 tahun.
Peran Marketing: Membantu meningkatkan penjualan dari berbagai channel yang sudah ditentukan.

Maka, tujuan marketing bisa dibuat seperti ini:

1. Meningkatkan traffic & konversi di TikTok Shop

  • Target: Meningkatkan GMV (Gross Merchandise Value) TikTok Shop sebesar 50%
  • Cara: Optimasi konten, live shopping, dan campaign tanpa promo berlebihan.

2. Meningkatkan engagement & conversion rate di website

  • Target: Meningkatkan traffic website 20% dan conversion rate dari 1,5% ke 2%
  • Cara: Retargeting, promo eksklusif, dan strategi SEO/ads.

3. Memastikan marketplace tetap stabil dengan strategi margin lebih tinggi

  • Target: Meningkatkan AOV (Average Order Value) di marketplace 10%
  • Cara: Fokus ke produk dengan margin lebih tinggi, paket bundling, dan cross-selling.

4. Meningkatkan customer retention untuk mendorong repeat order

  • Target: Meningkatkan repeat order rate dari 25% → 35%
  • Cara: Membership program, WhatsApp marketing, dan email automation.

5. Memanfaatkan live shopping di Instagram & WhatsApp sebagai channel baru

  • Target: Mendapatkan 600 juta tambahan revenue dari channel ini
  • Cara: Live shopping, kolaborasi dengan KOL, dan strategi WhatsApp selling.

3. Kenali Target Audiens dengan Mendalam

Kalau kita salah memahami siapa audiens kita, semua strategi marketing bisa jadi sia-sia. Pesan yang kita buat bisa nggak nyambung, promosi kita nggak menarik, dan akhirnya nggak menghasilkan konversi yang diharapkan.

Jadi, sebelum melangkah lebih jauh, kita harus benar-benar paham siapa yang akan kita targetkan dalam strategi marketing ini.

A. Analisis Data Pelanggan yang Ada

Langkah pertama adalah melihat data pelanggan dari tahun sebelumnya. Beberapa pertanyaan yang bisa kita jawab:

Dari mana mereka lebih banyak membeli?

  • Apakah lebih banyak dari marketplace, website, atau TikTok Shop?
  • Apakah ada perubahan pola belanja dibanding tahun sebelumnya?

Siapa pelanggan yang paling sering beli?

  • Apakah mereka pelanggan baru atau pelanggan setia?
  • Bagaimana perbandingan antara pelanggan lama dan baru?

Produk apa yang paling sering mereka beli?

  • Apakah mereka lebih banyak membeli produk dengan harga rendah atau premium?
  • Apakah ada perubahan tren dari tahun sebelumnya?

B. Buat Segmentasi Audiens yang Lebih Akurat

Dari data yang sudah kita kumpulkan, kita bisa membagi target audiens ke dalam beberapa segmen berdasarkan demografi, perilaku, dan preferensi belanja.

Misalnya, berdasarkan analisis sebelumnya, kita menemukan dua tipe audiens utama:

Pelanggan lama yang loyal, tapi mulai berpindah ke TikTok Shop

  • Suka promo, tetapi juga mengutamakan kemudahan checkout
  • Terbiasa belanja langsung lewat live shopping
  • Lebih banyak berinteraksi dengan konten video pendek

Pelanggan baru yang datang dari TikTok

  • Lebih impulsif dalam membeli produk
  • Lebih terpengaruh oleh ulasan dan komentar
  • Sering tertarik dengan tren & rekomendasi dari influencer

Dengan memahami ini, kita bisa menyesuaikan strategi marketing supaya lebih efektif.

C. Gunakan Data dari Tools yang Ada

Kalau masih ragu, kita bisa pakai berbagai tools untuk mendapatkan insight tambahan tentang target audiens:

Google Analytics → Untuk melihat siapa yang mengunjungi website kita, dari mana asal mereka, dan produk apa yang mereka lihat.
TikTok Shop Seller Center → Untuk melihat performa produk di TikTok, siapa pembeli utamanya, dan tren belanja mereka.
Facebook & Instagram Insights → Untuk memahami audiens dari sisi demografi dan interest mereka.
CRM & WhatsApp Marketing Data → Untuk melihat siapa yang sering melakukan repeat order dan bagaimana mereka berinteraksi dengan brand.

4. Lakukan Riset Kompetitor

Setelah kita memahami target audiens, langkah selanjutnya adalah melihat bagaimana kompetitor bermain di pasar. Riset kompetitor bukan sekadar mencari tahu apa yang mereka lakukan, tapi juga menemukan celah dan peluang yang bisa kita manfaatkan agar lebih unggul.

A. Kenapa Riset Kompetitor Itu Penting?

Banyak bisnis yang terlalu fokus pada strategi sendiri, tanpa melihat bagaimana pasar bergerak. Padahal, dengan memahami kompetitor, kita bisa:

  1. Belajar dari strategi yang berhasil → Apa yang mereka lakukan dengan baik, dan apakah bisa kita adaptasi?
  2. Menghindari kesalahan yang mereka buat → Jika ada strategi yang kurang efektif, kita bisa mencari pendekatan yang lebih baik.
  3. Menemukan keunggulan kompetitif → Bagaimana kita bisa menawarkan sesuatu yang lebih menarik daripada mereka?

B. Identifikasi Kompetitor Utama

Tidak semua bisnis di industri kita adalah kompetitor langsung. Kita perlu mengelompokkan mereka berdasarkan tipe berikut:

1️⃣ Kompetitor langsung → Brand dengan produk yang mirip dan target audiens yang sama.
2️⃣ Kompetitor tidak langsung → Brand yang menawarkan solusi berbeda, tapi masih bersaing dalam memenuhi kebutuhan pelanggan yang sama.
3️⃣ Kompetitor baru → Pemain baru yang mulai mendapatkan perhatian di pasar dan berpotensi menjadi ancaman.

Misalnya, jika kita adalah brand fashion lokal, maka:

  • Kompetitor langsung → Brand lokal lain yang juga jualan di TikTok Shop dan marketplace.
  • Kompetitor tidak langsung → Brand luar negeri yang masuk ke pasar Indonesia dan menawarkan harga lebih murah.
  • Kompetitor baru → Merek-merek kecil yang viral di media sosial dan mulai mencuri perhatian audiens kita.

C. Analisis Strategi Kompetitor

Sekarang, kita perlu menganalisis bagaimana mereka menjalankan strategi pemasaran. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan:

1. Kanal Penjualan yang Mereka Gunakan

  • Apakah mereka lebih fokus di marketplace, website, atau TikTok Shop?
  • Apakah mereka punya strategi omnichannel yang kuat?

2. Strategi Konten & Promosi

  • Seperti apa gaya konten mereka di Instagram, TikTok, dan platform lainnya?
  • Apakah mereka menggunakan influencer atau brand ambassador?
  • Jenis promosi apa yang sering mereka jalankan (diskon, bundling, flash sale, dll.)?

3. Harga & Penawaran Produk

  • Bagaimana perbandingan harga produk mereka dengan milik kita?
  • Apakah mereka sering menawarkan promo atau value tambahan (gratis ongkir, cashback, dll.)?

4. Ulasan & Feedback Pelanggan

  • Apa yang pelanggan suka dan tidak suka dari produk mereka?
  • Apakah ada masalah yang sering dikeluhkan pelanggan, yang bisa kita jadikan keunggulan kompetitif?

D. Gunakan Tools untuk Riset Kompetitor

Untuk mendapatkan insight yang lebih dalam, kita bisa menggunakan beberapa tools berikut:

Google Trends → Melihat tren pencarian terkait brand atau produk kompetitor.
Social Listening Tools (Brandwatch, Hootsuite, dll.) → Melihat percakapan pelanggan tentang kompetitor di media sosial.
Marketplace & TikTok Shop Analytics → Menganalisis performa produk kompetitor, harga, dan strategi promosi mereka.
Review & Testimonial Pelanggan → Membaca ulasan di marketplace, media sosial, atau forum diskusi untuk melihat kekuatan dan kelemahan kompetitor.

5. Tentukan Unique Selling Proposition (USP)

Setelah memahami tujuan bisnis dan melakukan riset kompetitor, sekarang saatnya menentukan apa yang membuat brand kita berbeda dan lebih menarik dibanding kompetitor. USP (Unique Selling Proposition) bukan hanya sekadar slogan atau fitur produk, tetapi sebuah nilai unik yang bisa benar-benar dirasakan oleh pelanggan.

A. USP untuk Brand Fashion Lokal yang Kita Analisis

Dari analisis sebelumnya, kita tahu bahwa brand ingin meningkatkan pendapatan 30% dengan strategi utama:
Meningkatkan penjualan di TikTok Shop sebesar 20% dalam setahun.
Meningkatkan konversi di website dan marketplace tanpa harus bergantung pada promo besar-besaran.

Dari riset kompetitor dan analisis pelanggan, ada beberapa keunggulan yang bisa dijadikan USP:

  • Bahan premium yang lebih adem dan nyaman dibanding kompetitor di harga yang sama.
  • Desain eksklusif yang selalu update, tidak pasaran, dan cocok untuk daily wear.
  • Pengiriman lebih cepat dengan packaging yang lebih rapi dan premium.

💡 USP utama yang bisa digunakan:

"Fashion premium, nyaman dipakai seharian, dengan desain eksklusif yang selalu update setiap minggu!"

USP ini bisa langsung dirasakan oleh pelanggan dan menonjol dibanding kompetitor, terutama dalam konteks strategi pemasaran yang akan difokuskan pada TikTok Shop dan marketplace.

B. Mengapa USP Ini Kuat?

USP ini memenuhi tiga kriteria utama:
Spesifik → Tidak hanya bilang "fashion berkualitas", tapi menyebut bahan premium yang nyaman seharian.
Relevan dengan pelanggan → Berdasarkan riset, pelanggan mencari desain yang tidak pasaran dan nyaman untuk dipakai di iklim tropis.
Membedakan dari kompetitor → Banyak kompetitor fokus pada harga murah atau desain trendy, tetapi tidak menonjolkan kenyamanan bahan dan eksklusivitas desain.

C. Cara Menerapkan USP dalam Strategi Marketing

Setelah menemukan USP, langkah selanjutnya adalah menerapkannya dalam berbagai aspek pemasaran:

TikTok Shop & Marketplace:

  • Gunakan USP dalam deskripsi produk → "Bahan adem, nyaman seharian, dan selalu update!"
  • Live shopping yang menekankan kenyamanan bahan dan eksklusivitas desain.

Konten & Sosial Media:

  • Buat video "bukti kenyamanan" → Misalnya, membandingkan bahan dengan kompetitor atau menunjukkan bagaimana bahan tetap nyaman meskipun dipakai seharian.
  • Gunakan storytelling di Instagram & TikTok → Misalnya, "Pernah beli baju online tapi ternyata gerah? Coba ini!"

Iklan & Kampanye Marketing:

  • Pastikan USP menjadi fokus utama dalam copywriting iklan.
  • Buat kampanye "Nyaman Seharian Challenge" untuk membuktikan kenyamanan produk.

6. Pilih Channel Pemasaran yang Tepat

Setelah menentukan USP, langkah selanjutnya adalah memilih channel pemasaran yang paling efektif untuk mencapai target bisnis. Tidak semua channel cocok untuk setiap brand, jadi pemilihannya harus disesuaikan dengan di mana target audiens berada dan bagaimana mereka berinteraksi dengan brand.

A. Channel yang Paling Relevan untuk Brand Fashion Lokal Ini

Kembali ke contoh brand fashion lokal kita, tujuan bisnisnya adalah meningkatkan pendapatan 30% dalam setahun, dengan strategi:

  • Meningkatkan penjualan di TikTok Shop sebesar 20%.
  • Meningkatkan konversi di website dan marketplace tanpa bergantung pada promo besar-besaran.

Berdasarkan riset sebelumnya, audiens utama adalah perempuan usia 18–35 tahun yang aktif mencari outfit stylish dan nyaman, sering belanja online, dan banyak terpengaruh oleh konten media sosial.

Dari sini, kita bisa menentukan channel yang paling efektif:

ChannelAlasan PemilihanStrategi yang Bisa Digunakan
TikTok ShopTikTok Shop terus berkembang, banyak pelanggan brand yang sudah pindah ke sini.- Live shopping rutin dengan USP yang jelas.- Kolaborasi dengan creator TikTok untuk review & unboxing.- Konten FYP-friendly yang menunjukkan kenyamanan produk.
Website (D2C)Channel dengan margin lebih tinggi, dan bisa meningkatkan brand loyalty.- Gunakan landing page khusus dengan storytelling kuat tentang bahan & desain.- Remarketing untuk menarik kembali pengunjung yang belum checkout.- Campaign "Beli langsung dari website = lebih eksklusif & lebih cepat sampai."
Shopee & TokopediaMasih jadi platform utama untuk e-commerce di Indonesia, perlu tetap dijaga performanya.- Optimasi SEO & deskripsi produk agar lebih menonjol.- Fokus pada strategi konten & ulasan pelanggan dibanding hanya promo diskon.
Instagram & TikTok (Organik & Ads)Banyak pelanggan mencari inspirasi fashion di sini.- Konten "OOTD dengan bahan super nyaman" + CTA beli di TikTok Shop.- Storytelling tentang perjalanan produk, dari desain hingga produksi.- Ads retargeting untuk mengingatkan pembeli yang belum checkout.
Influencer & KOLAudiens target banyak yang mempercayai rekomendasi influencer.- Pilih KOL yang sesuai dengan brand image.- Gunakan micro-influencer untuk engagement lebih tinggi.

B. Kenapa Tidak Semua Channel Digunakan?

Banyak brand melakukan kesalahan dengan menyebar ke semua channel tanpa strategi yang jelas. Ini bisa membuang waktu dan budget.

Pendekatan yang lebih efektif:
✔ Fokus ke TikTok Shop dulu karena ini adalah tempat di mana pelanggan sudah mulai berpindah.
✔ Jaga website dan marketplace tetap optimal untuk pelanggan yang lebih suka checkout di sana.
✔ Gunakan Instagram & TikTok Ads untuk mendukung awareness dan retargeting.
✔ Hindari platform yang tidak relevan, seperti LinkedIn atau Facebook (karena audiens target lebih muda).

C. Contoh Implementasi Campaign di Channel yang Dipilih

Sebagai gambaran, berikut adalah contoh campaign yang bisa diterapkan di setiap channel dalam 3 bulan pertama:

BulanTikTok ShopWebsite & MarketplaceSosial Media & Ads
Bulan 12x Live Shopping/minggu, testing jam terbaik.Optimasi halaman produk & deskripsi di Shopee & Tokopedia.Konten "OOTD dengan bahan super nyaman" & storytelling USP.
Bulan 2Kolaborasi dengan 3 KOL untuk review produk.Tambahkan campaign "Beli di website lebih eksklusif."Retargeting ads ke mereka yang klik produk tapi belum beli.
Bulan 3Scale up ads TikTok untuk video yang paling perform.Evaluasi & tingkatkan konversi dengan promo bundling di marketplace.Kampanye giveaway kecil untuk engagement & awareness.

D. Kesimpulan: Channel Harus Sesuai dengan Tujuan

Memilih channel pemasaran tidak bisa asal ikut tren, harus berdasarkan di mana audiens berada dan bagaimana mereka berinteraksi dengan brand.

Dengan memilih TikTok Shop, Website, Marketplace, dan Ads sebagai fokus utama, brand ini bisa lebih efektif dalam mencapai target peningkatan pendapatan 30% dalam setahun.

7. Buat Strategi Konten yang Menarik

Setelah memilih channel pemasaran yang tepat, langkah selanjutnya adalah membuat strategi konten yang bisa menarik perhatian target audiens, memperkuat brand awareness, dan akhirnya mendorong konversi.

Karena contoh bisnis kita adalah brand fashion lokal yang ingin meningkatkan pendapatan 30% dalam setahun, maka strategi konten harus:

  • Meningkatkan penjualan di TikTok Shop sebesar 20%.
  • Meningkatkan konversi di website dan marketplace tanpa bergantung pada promo besar-besaran.
  • Memperkuat brand positioning sebagai fashion yang nyaman & stylish.

A. Jenis Konten yang Efektif untuk Tiap Channel

ChannelJenis Konten yang CocokTujuan Konten
TikTok Shop- Live shopping interaktif- Video pendek FYP-friendly (OOTD, before-after, review pelanggan)- Challenge/UGC (User Generated Content)- Meningkatkan engagement & interaksi langsung.- Meningkatkan konversi lewat live shopping.
Website (D2C)- Blog tentang fashion tips & tren- Video & foto produk yang menampilkan detail bahan dan kenyamanan- Testimoni pelanggan dalam bentuk artikel/video- Meningkatkan kepercayaan pelanggan.- Memposisikan brand sebagai pilihan utama untuk fashion nyaman.
Shopee & Tokopedia- Foto produk yang menarik dan profesional- Video pendek 30 detik yang menunjukkan bahan & fit pakaian- Testimoni & ulasan pelanggan- Meningkatkan CTR (Click-Through Rate) di marketplace.- Mengurangi keraguan pelanggan sebelum membeli.
Instagram & TikTok (Organik & Ads)- Video "How to style" dengan produk brand- Behind the scenes pembuatan produk- Polling & interaksi di Instagram Stories- Meningkatkan engagement.- Membangun komunitas pelanggan yang loyal.
Influencer & KOL- Unboxing & review produk- Challenge atau giveaway- Outfit inspiration dengan produk brand- Meningkatkan social proof.- Menjangkau audiens baru yang potensial.

B. Contoh Strategi Konten dalam 3 Bulan

Agar lebih konkret, berikut rencana konten selama 3 bulan pertama:

BulanTikTok ShopWebsite & MarketplaceSosial Media & Ads
Bulan 1- 2x Live Shopping/minggu dengan host menarik.- Video FYP "OOTD dengan bahan super nyaman".- Update foto & video produk dengan lebih detail.- Artikel blog: "Cara memilih pakaian nyaman untuk sehari-hari."- Ads soft-selling: "Coba sendiri, bahan seenak itu!"- Behind the scenes pembuatan produk.
Bulan 2- Live shopping dengan promo eksklusif tanpa diskon besar.- Challenge "OOTD Challenge" di TikTok.- Tambahkan testimoni video pelanggan di website & marketplace.- Bundling produk untuk upselling.- Influencer review produk + CTA beli di TikTok Shop.- Polling IG Stories: "Lebih suka warna A atau B?"
Bulan 3- Analisis data live shopping: waktu terbaik, produk paling laku.- Kolaborasi dengan micro-influencer untuk live shopping.- Evaluasi konversi, optimasi CTA & landing page.- Artikel blog: "5 OOTD effortless tapi tetap stylish".- Retargeting ads ke pelanggan yang sudah klik tapi belum beli.- Giveaway kecil untuk meningkatkan engagement.

C. Contoh Ide Konten untuk TikTok & Instagram

1. Live Shopping Series

💡 Tema: "Cari Outfit Nyaman & Stylish? Coba Ini!"
🎯 Goal: Meningkatkan penjualan di TikTok Shop
📅 Frekuensi: 2x seminggu
📌 Strategi:

  • Host menjelaskan USP produk dengan storytelling menarik.
  • Interaksi dengan audiens: polling, giveaway kecil.
  • Tambahkan urgency: "Stok terbatas, hanya selama live!"

2. Konten FYP-Friendly di TikTok

💡 Tema: "OOTD Challenge: Outfit Nyaman Buat Seharian!"
🎯 Goal: Meningkatkan engagement & awareness
📌 Strategi:

  • Gunakan musik yang sedang tren.
  • Format before-after: "Dari santai jadi stylish dalam 10 detik!"
  • Call to action jelas: "Cek koleksi lengkap di TikTok Shop!"

3. User-Generated Content (UGC)

💡 Tema: "Pakai outfit ini, nyaman seharian!"
🎯 Goal: Meningkatkan social proof
📌 Strategi:

  • Ajak pelanggan untuk posting video review.
  • Berikan insentif: repost terbaik setiap minggu.
  • Minta mereka tag akun brand & gunakan hashtag khusus.

4. Behind The Scenes

💡 Tema: "Dibalik Outfit Nyaman Ini, Ada Perjalanan Panjang!"
🎯 Goal: Meningkatkan brand trust & engagement
📌 Strategi:

  • Tunjukkan proses produksi: pemilihan bahan, quality control.
  • Gunakan storytelling untuk membangun koneksi dengan audiens.
  • Akhiri dengan CTA: "Jadi penasaran? Cek koleksinya sekarang!"

D. Kesimpulan: Konten Harus Sesuai dengan Tujuan Bisnis

Strategi konten yang menarik bukan hanya soal viral, tapi juga harus mendukung tujuan bisnis utama:

  • Live Shopping & Konten FYP untuk mendorong penjualan di TikTok Shop.
  • Website & Marketplace yang lebih informatif untuk meningkatkan konversi tanpa promo besar.
  • Influencer & User-Generated Content untuk membangun social proof.

Dengan pendekatan ini, strategi konten bisa menjadi motor utama dalam meningkatkan pendapatan brand hingga 30% dalam setahun.

8. Tetapkan Anggaran Marketing

Setelah menentukan strategi konten, langkah selanjutnya adalah menetapkan anggaran marketing yang efisien agar setiap channel pemasaran dapat memberikan hasil maksimal.

Karena tujuan bisnis kita adalah meningkatkan pendapatan 30% dalam setahun, maka anggaran harus dialokasikan berdasarkan ROI (Return on Investment) dan prioritas channel yang paling potensial.

1. Performa Tahun Lalu

Sebelum menetapkan anggaran, kita perlu melihat performa bisnis di tahun sebelumnya.

📌 Pendapatan Total Tahun Lalu: Rp10 Miliar
📌 Distribusi Pendapatan:

  • TikTok Shop: Rp2 Miliar (20%)
  • Website: Rp3 Miliar (30%)
  • Marketplace: Rp5 Miliar (50%)

📌 Marketing Budget Tahun Lalu: Rp1 Miliar
📌 ROAS Rata-rata Tahun Lalu: 4,5x
📌 Sumber Pendapatan:

  • Dari Paid Marketing: Rp4,5 Miliar
  • Dari Organik: Rp5,5 Miliar

Dari sini, kita bisa melihat bahwa hampir setengah dari total pendapatan tahun lalu berasal dari paid marketing. Artinya, strategi marketing berbayar masih menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis.

2. Sesuaikan Anggaran dengan Target Pendapatan

Untuk mencapai target pendapatan Rp13 Miliar di tahun ini, kita perlu memastikan bahwa strategi marketing yang digunakan dapat mendukung pertumbuhan ini.

🎯 Strategi:

  • Pendapatan Organik (diasumsikan tetap): Rp6 Miliar
  • Pendapatan dari Paid Marketing yang Dibutuhkan: Rp7 Miliar

Budget Marketing Tahun Ini (10% dari Target Pendapatan): Rp1,3 Miliar

Dengan asumsi ini, kita perlu memastikan bahwa anggaran yang dialokasikan dapat menghasilkan return yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

3. Penetapan Target ROAS yang Diperlukan

Untuk mencapai target pendapatan dari paid marketing sebesar Rp7 Miliar dengan anggaran Rp1,3 Miliar, kita harus memiliki target ROAS rata-rata sebesar 5,4x.

Benchmark ROAS di Industri Fashion & E-commerce:

ChannelBenchmark ROAS IndustriTarget ROAS Baru
TikTok Ads & Live Shopping3x - 5x5,5x
Performance Ads (Website & Marketplace Ads)4x - 6x6x
Influencer & KOL Marketing2,5x - 4x4,5x
SEO & Website Optimasi3x - 5x5x
Event & Partnership2x - 4x4x

Dengan mempertimbangkan data industri dan performa tahun lalu, target ROAS ini masih dalam batas yang realistis untuk dicapai.

4. Alokasi Anggaran Marketing

Agar hasilnya maksimal, anggaran marketing akan dibagi sesuai dengan efektivitas masing-masing channel pemasaran.

KategoriPersentaseAlokasi DanaTarget ROASEstimasi Pendapatan
TikTok Ads & Live Shopping40%Rp520 Juta5,5xRp2,86 Miliar
Performance Ads (Website & Marketplace Ads)35%Rp455 Juta6xRp2,73 Miliar
Influencer & KOL Marketing15%Rp195 Juta4,5xRp877,5 Juta
SEO & Website Optimasi5%Rp65 Juta5xRp325 Juta
Event & Partnership5%Rp65 Juta4xRp260 Juta

Dengan alokasi ini, setiap channel mendapatkan porsi anggaran yang sesuai dengan efektivitasnya dalam mendatangkan konversi.

5. Estimasi Total Pendapatan

Setelah mengalokasikan anggaran dengan target ROAS yang sesuai, kita bisa memperkirakan total pendapatan yang akan dicapai.

  • Pendapatan dari Paid Marketing: Rp7,05 Miliar
  • Pendapatan Organik (Diasumsikan Tetap): Rp6 Miliar
  • Total Pendapatan: Rp13,05 Miliar(Target Rp13 Miliar Tercapai!)

Dengan strategi ini, anggaran marketing tidak hanya mendukung pertumbuhan bisnis tetapi juga memastikan bahwa setiap investasi yang dikeluarkan memberikan return yang optimal.

9. Rencanakan Strategi Campaign & Promosi

Setelah menentukan anggaran pemasaran, langkah berikutnya adalah menyusun strategi campaign dan promosi yang selaras dengan tujuan bisnis. Kampanye ini harus didesain untuk mendukung pertumbuhan di setiap channel, baik TikTok Shop, website, maupun marketplace, dengan tetap mempertahankan keseimbangan antara strategi organik dan berbayar.

1. Tujuan Campaign & Promosi

Strategi ini bertujuan untuk:

  • Meningkatkan penjualan TikTok Shop sebesar 50% dalam satu tahun.
  • Meningkatkan traffic & konversi website agar kontribusinya tetap kuat.
  • Mempertahankan dominasi marketplace dengan strategi promosi yang agresif.
  • Mengoptimalkan pengeluaran iklan agar ROAS tetap tinggi.

Dengan tujuan ini, campaign yang dibuat harus relevan dengan target audiens dan memperhitungkan pola konsumsi mereka di berbagai platform.

2. Jenis Campaign & Promosi

Berdasarkan karakteristik tiap channel, berikut strategi yang akan digunakan:

a. TikTok Shop & Live Shopping

  • Flash Sale Harian & Weekly Mega Sale
    Menyediakan diskon besar dalam waktu terbatas untuk meningkatkan urgensi pembelian.
  • Bundling Produk Eksklusif untuk Live Shopping
    Mendorong pembelian dalam jumlah lebih besar saat sesi live berlangsung.
  • Kolaborasi dengan TikTok KOL & Influencer
    Menggunakan strategi review dan unboxing untuk memperkuat social proof.
  • Iklan TikTok dengan CTA Langsung ke Produk
    Menggunakan format iklan yang interaktif agar audiens langsung bisa checkout.

b. Website (D2C Channel)

  • Strategi Content Marketing & SEO
    Mengoptimalkan blog dan media sosial untuk menarik traffic organik.
  • Retargeting Ads untuk Meningkatkan Konversi
    Menargetkan ulang pengunjung yang belum melakukan pembelian.
  • Exclusive Member Deals & Loyalty Program
    Menawarkan promo eksklusif bagi pelanggan tetap agar meningkatkan repeat purchase.

c. Marketplace (Shopee, Tokopedia, Lazada)

  • Optimasi Program Campaign Marketplace
    Mengikuti program promosi platform seperti 12.12, 10.10, dan payday sale.
  • Paid Ads untuk Produk Best Seller
    Mengalokasikan iklan pada produk dengan margin terbaik untuk meningkatkan profitabilitas.
  • Strategi Cashback & Voucher Diskon
    Meningkatkan daya tarik produk dibandingkan kompetitor di marketplace.

d. Cross-Channel Promotion & Branding

  • Social Media & UGC (User-Generated Content)
    Mendorong pelanggan membagikan pengalaman mereka di media sosial.
  • Email & WhatsApp Marketing
    Menggunakan strategi nurturing untuk menjaga engagement pelanggan.
  • Event & Collaboration dengan Brand Terkait
    Menggandeng brand lain dalam satu industri untuk menjangkau audiens lebih luas.

3. Kalender Campaign & Promosi

Agar campaign berjalan efektif, promosi harus terjadwal dengan baik. Berikut gambaran rencana campaign selama satu tahun:

BulanCampaign UtamaChannel Fokus
JanuariNew Year SaleWebsite & Marketplace
FebruariValentine SpecialTikTok & Website
MaretPayday & Flash SaleMarketplace & TikTok
April - MeiRamadan & Lebaran CampaignSemua Channel
JuniMid-Year SaleMarketplace & Website
Juli - AgustusBack to School & PaydayTikTok & Marketplace
SeptemberBrand Anniversary PromoWebsite & TikTok
Oktober - November10.10 & 11.11 Mega SaleMarketplace & TikTok
Desember12.12 Grand Year End SaleSemua Channel

Dengan perencanaan ini, setiap bulan ada campaign yang sesuai dengan tren pasar, sehingga dapat mempertahankan momentum pertumbuhan sepanjang tahun.

10. Pantau & evaluasi kinerja marketing

Agar strategi marketing berjalan efektif dan tetap sesuai dengan tujuan bisnis, pemantauan dan evaluasi secara berkala sangat diperlukan. Dengan mengukur performa setiap channel, kita dapat mengidentifikasi strategi yang berhasil serta memperbaiki yang kurang optimal.

1. Gunakan Tools Analisis

Untuk mendapatkan insight yang akurat, gunakan berbagai tools analisis seperti:

  • Google Analytics: Melacak traffic, konversi, dan perilaku pengunjung di website.
  • Meta & TikTok Ads Manager: Mengukur performa iklan berbayar di platform sosial media.
  • Shopify / Woocommerce Analytics: Melihat data penjualan dan perilaku pelanggan di website.
  • Marketplace Dashboard (Shopee/Lazada/Tokopedia): Memantau performa toko dan produk di marketplace.

Penggunaan data yang akurat membantu pengambilan keputusan lebih cepat dan tepat.

2. Evaluasi Performa Berdasarkan KPI

Evaluasi dilakukan setiap bulan atau per kuartal untuk memastikan strategi tetap berada di jalur yang tepat. KPI yang digunakan mengacu pada target yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu:

  • Pendapatan Total: Mencapai target Rp13 miliar dalam setahun.
  • Distribusi Pendapatan:
    • TikTok Shop: Rp4 miliar (30%)
    • Website: Rp4,5 miliar (35%)
    • Marketplace: Rp4,5 miliar (35%)
  • Return on Ad Spend (ROAS):
    • TikTok Ads: 5x
    • Meta Ads: 6x
    • Google Ads: 7x
  • Customer Acquisition Cost (CAC): Dijaga agar tetap sesuai dengan profit margin.
  • Conversion Rate: Meningkatkan performa tiap channel berdasarkan data sebelumnya.

Evaluasi dilakukan dengan membandingkan realisasi angka dengan target, sehingga bisa segera dilakukan penyesuaian strategi jika ada channel yang kurang optimal.

3. Lakukan Penyesuaian Strategi

Berdasarkan data yang dikumpulkan, langkah-langkah berikut dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas strategi:

  1. Optimalkan budget marketing: Tingkatkan alokasi pada channel dengan ROAS tertinggi.
  2. A/B Testing untuk meningkatkan performa: Uji variasi iklan, konten, atau CTA untuk melihat mana yang lebih efektif.
  3. Perbaiki strategi yang kurang efektif: Jika ada channel yang tidak mencapai target, cari tahu penyebabnya dan sesuaikan pendekatannya.
  4. Pertahankan strategi yang berhasil: Jika ada campaign atau channel yang menunjukkan pertumbuhan signifikan, lanjutkan dan kembangkan lebih lanjut.

Dengan pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan, bisnis dapat memastikan bahwa strategi marketing tetap berjalan optimal dan target pertumbuhan pendapatan dapat tercapai.

11. Adaptasi & Optimasi Strategi Secara Berkala

Strategi marketing bukanlah sesuatu yang statis. Agar tetap efektif dalam mencapai target pendapatan Rp13 miliar, bisnis perlu terus beradaptasi dengan perubahan pasar dan mengoptimalkan strategi berdasarkan data yang telah dikumpulkan.

1. Pantau Performa Tiap Channel

Berdasarkan rencana sebelumnya, pendapatan diharapkan berasal dari beberapa channel utama:

  • TikTok Shop: Rp3,6 miliar (27%)
  • Website: Rp3,9 miliar (30%)
  • Marketplace: Rp5,5 miliar (43%)

Evaluasi rutin perlu dilakukan untuk memastikan setiap channel mencapai targetnya. Jika ada channel yang kinerjanya di bawah ekspektasi, optimasi harus segera dilakukan, seperti:

  • Meningkatkan engagement di TikTok Shop melalui strategi konten yang lebih interaktif.
  • Meningkatkan konversi di website dengan strategi retargeting atau optimasi user experience.
  • Memperbaiki performa marketplace dengan promosi yang lebih terarah.

2. Evaluasi ROAS dan Efektivitas Anggaran

Anggaran marketing sebesar Rp1,3 miliar telah dialokasikan dengan target ROAS sebagai berikut:

  • TikTok Ads: ROAS 3,5 → Pendapatan Rp1,05 miliar
  • Google & Meta Ads: ROAS 4 → Pendapatan Rp1,2 miliar
  • Marketplace Ads: ROAS 5 → Pendapatan Rp1,5 miliar

Jika ada channel yang tidak mencapai target ROAS, bisnis harus melakukan penyesuaian, misalnya:

  • Jika ROAS TikTok Ads terlalu rendah, perbaiki strategi targeting atau kreatif iklan.
  • Jika ROAS Google & Meta Ads menurun, uji coba variasi copywriting atau format iklan baru.
  • Jika ROAS marketplace tidak sesuai harapan, optimalkan strategi pricing dan promo agar lebih kompetitif.

3. Sesuaikan Alokasi Anggaran Jika Diperlukan

Jika ada channel yang menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi dari ekspektasi, bisnis bisa mengalokasikan lebih banyak budget ke channel tersebut. Contohnya:

  • Jika TikTok Shop terus meningkat dan memiliki potensi lebih besar, bisa meningkatkan alokasi budget dari channel lain yang kurang efektif.
  • Jika strategi organic mulai menghasilkan lebih banyak konversi, anggaran ads bisa sedikit dikurangi dan dialihkan ke strategi content marketing.

4. Lakukan Uji Coba & Inovasi Secara Terus-Menerus

Agar strategi tetap segar dan relevan, bisnis harus terus menguji metode baru, seperti:

  • Eksperimen dengan format konten TikTok Shop (misalnya kombinasi antara live shopping dan influencer collaboration).
  • Testing strategi pricing di website (misalnya promo bundling untuk meningkatkan AOV).
  • Optimasi listing produk di marketplace dengan copywriting yang lebih engaging dan visual yang lebih menarik.

Dengan pendekatan berbasis data dan fleksibilitas dalam eksekusi, strategi marketing bisa terus berkembang dan mencapai target pendapatan yang telah ditetapkan.

Penutup: Siap Eksekusi & Capai Target Bisnis

Dengan marketing plan yang terstruktur dan berbasis data, bisnis dapat meningkatkan pendapatan hingga Rp13 miliar dengan strategi yang tepat sasaran. Kunci keberhasilan terletak pada eksekusi yang disiplin, pemantauan yang konsisten, serta kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan pasar.

Marketing bukan sekadar menjalankan campaign, tetapi juga tentang memahami audiens, memilih channel yang efektif, dan terus mengoptimalkan strategi untuk mencapai ROI yang maksimal. Dengan pendekatan ini, bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan tanpa harus bergantung pada diskon berlebihan.

Untuk membantu Anda dalam menyiapkan dan mengevaluasi marketing plan, berikut checklist yang bisa digunakan:

Checklist Lengkap Marketing Plan

1. Cara Menganalisis Tujuan Bisnis untuk Tahun Ini

  • Apakah pendapatan tahun sebelumnya sudah dianalisis?
  • Apakah tren pertumbuhan bisnis sudah dipertimbangkan?
  • Apakah faktor eksternal yang mempengaruhi bisnis sudah diperhitungkan?
  • Apakah target pendapatan tahun ini ditetapkan secara realistis dan berbasis data?

2. Dari Tujuan Bisnis ke Tujuan Marketing

  • Apakah tujuan marketing sudah sejalan dengan tujuan bisnis?
  • Apakah ada target spesifik untuk setiap channel pemasaran?
  • Apakah strategi marketing mendukung pertumbuhan revenue sesuai target?

3. Kenali Target Audiens dengan Mendalam

  • Apakah segmentasi audiens sudah ditentukan dengan jelas (usia, lokasi, minat, perilaku belanja)?
  • Apakah data dari pelanggan tahun lalu digunakan untuk memperjelas target audiens?
  • Apakah ada perubahan tren perilaku audiens yang harus diperhatikan?

4. Lakukan Riset Kompetitor

  • Apakah kompetitor utama sudah diidentifikasi?
  • Apakah strategi pemasaran kompetitor sudah dianalisis (harga, campaign, channel, konten)?
  • Apakah ada peluang atau celah yang bisa dimanfaatkan dari analisis kompetitor?

5. Tentukan Unique Selling Proposition (USP)

  • Apakah bisnis memiliki USP yang jelas dan membedakan dari kompetitor?
  • Apakah USP sudah dikomunikasikan dalam materi pemasaran?
  • Apakah USP cukup kuat untuk menarik pelanggan dan meningkatkan loyalitas?

6. Pilih Channel Pemasaran yang Tepat

  • Apakah pemilihan channel pemasaran didasarkan pada performa tahun sebelumnya?
  • Apakah channel utama (TikTok Shop, website, marketplace) sudah dioptimalkan?
  • Apakah ada keseimbangan antara channel organik dan berbayar?

7. Buat Strategi Konten yang Menarik

  • Apakah ada rencana konten yang spesifik untuk setiap channel pemasaran?
  • Apakah konten yang dibuat sesuai dengan preferensi target audiens?
  • Apakah ada kombinasi antara konten edukatif, promosi, dan interaktif?

8. Tetapkan Anggaran Marketing

  • Apakah anggaran marketing sudah disesuaikan dengan target pendapatan?
  • Apakah ROAS yang ditargetkan realistis untuk setiap channel?
  • Apakah strategi alokasi budget sudah mempertimbangkan performa channel tahun lalu?

9. Rencanakan Strategi Campaign & Promosi

  • Apakah sudah ada perencanaan campaign besar dalam setahun?
  • Apakah campaign mengikuti momentum seperti Ramadan Sale, End-Year Sale, dan Double-Digit Sale?
  • Apakah ada strategi promosi yang disesuaikan untuk setiap channel?

10. Pantau & Evaluasi Kinerja Marketing

  • Apakah KPI utama sudah ditentukan untuk setiap channel dan campaign?
  • Apakah ada sistem untuk memantau performa marketing secara real-time?
  • Apakah ada evaluasi rutin untuk mengidentifikasi strategi yang berhasil dan yang perlu dioptimalkan?

11. Adaptasi & Optimasi Strategi Secara Berkala

  • Apakah ada mekanisme untuk melakukan evaluasi dan perubahan strategi jika diperlukan?
  • Apakah bisnis siap mengalokasikan ulang budget jika ada channel dengan performa lebih tinggi?
  • Apakah ada inovasi strategi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan efektivitas pemasaran?

Dengan checklist ini, bisnis dapat memastikan bahwa setiap langkah dalam marketing plan telah direncanakan dengan matang dan siap dieksekusi dengan optimal.

Dapatkan strategi dan insight terbaru untuk mengembangkan bisnismu langsung di inbox. Plus, jadi yang pertama tahu jika ada sesi sharing offline gratis!

💬 Butuh checklist ini dalam format template Asana atau CSV? Klik di sini untuk download template gratisnya!

Apakah kamu suka artikel ini?

Rata-rata 5 / 5. Jumlah vote: 2

Belum ada rating untuk artikel ini.

Table of Contents
Primary Item (H2)

Baca yang lainnya

Join the Smart Side of Learning

Gabung ke komunitas LifeKit untuk dapat insight-insight terbaru lainnya setiap minggu!
Subscribe
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram