
Pernah dengar cerita brand yang jor-joran promosi tapi ujung-ujungnya rugi besar? Atau bisnis yang kelihatan ramai di awal, tapi mendadak sepi karena salah strategi? Nah, salah satu penyebab utamanya adalah marketing plan yang asal jadi atau bahkan nggak ada sama sekali.
Marketing plan itu bukan sekadar "rencana jualan," tapi peta jalan buat bisnismu. Tanpa rencana yang matang, semua upaya marketing bisa jadi buang-buang waktu dan uang. Salah langkah sedikit, hasilnya bisa jauh dari ekspektasi.
Tapi tenang, bikin marketing plan yang efektif bukan ilmu roket. Di artikel ini, kita bakal bahas 11 langkah yang sering dipakai brand-brand sukses di Indonesia buat memastikan strategi marketing mereka nggak cuma jalan, tapi juga menghasilkan. Berikut step by stepnya:
Ingin tahu cara menjalankan setiap langkah di atas? Scroll ke bawah untuk penjelasan lengkap dan checklist siap pakai.
Disclaimer: semua simulasi ini hanya contoh, dan tidak sepenuhnya akurat. Simulasi ini hanya dibuat agar lebih mudah dimengerti dengan pendekatan aksi langsung.
Sebelum merancang strategi marketing, pastikan dulu bisnisnya mau ke mana. Marketing bukan sekadar soal promosi, tapi harus membantu perusahaan mencapai target bisnisnya.
Misalnya, sebuah brand fashion lokal ingin meningkatkan pendapatan sebesar 30% tahun ini. Tapi, apakah target ini realistis? Bagaimana cara mencapainya? Untuk mengetahuinya, kita perlu menganalisis bisnis secara menyeluruh.
Sebelum menentukan strategi baru, lihat dulu apa yang sudah terjadi:
📌 Contoh Analisis:
💡 Insight: Jika ingin meningkatkan pendapatan 30%, kita harus mencari cara untuk meningkatkan penjualan tanpa bergantung pada promo besar-besaran.
Apakah target pelanggan masih sama seperti sebelumnya, atau ada perubahan?
Baca ini sebelumnya: Kenapa Data-Driven Mindset itu Wajib dalam Marketing
✅ Cara mengeceknya:
📌 Contoh Analisis:
💡 Insight:
Jika kita ingin memanfaatkan TikTok Shop tanpa harus mengandalkan promo, maka kita perlu membangun engagement yang lebih kuat di sana.
Tujuan bisnis juga harus mempertimbangkan persaingan di industri. Jika ingin tumbuh 30%, kita harus tahu apakah ada ruang di pasar untuk mencapai itu.
✅ Cara menganalisis kompetitor:
📌 Contoh Analisis:
💡 Insight: Jika ingin meningkatkan penjualan tanpa perang harga, kita perlu:
Bukan hanya soal strategi marketing, tetapi apakah bisnis punya kapasitas untuk mendukung pertumbuhan ini?
✅ Yang perlu dicek:
Baca juga ini: Iklan Digital Boros? Optimalkan Anggaran dengan Data-Driven Ads!
📌 Contoh Analisis:
💡 Insight: Jika ingin meningkatkan pendapatan 30%, kita harus memastikan:
Sebelum menetapkan target final, pastikan asumsi yang dibuat benar-benar berdasarkan data dan bukan sekadar ekspektasi.
✅ Cara validasi:
📌 Contoh Analisis:
💡 Insight: Dengan memahami tren penjualan dan masukan pelanggan, target bisnis bisa dibuat lebih realistis dan strategi marketing lebih tepat sasaran.
Setelah semua analisis ini, barulah kita bisa menjawab: Apakah target “meningkatkan pendapatan 30%” itu masuk akal?
Jika jawabannya ya, maka kita bisa lanjut ke langkah berikutnya: menyusun tujuan marketing yang lebih spesifik dan actionable.
Namun, jika setelah analisis ternyata target ini terlalu tinggi, mungkin perlu disesuaikan atau dibuat lebih bertahap.
Pendapatan tahun lalu: Rp10 miliar
Distribusi pendapatan tahun lalu:
Target peningkatan pendapatan: 30% dari Rp10 miliar = Rp3 miliar tambahan
Total pendapatan yang harus dicapai: Rp13 miliar
Masih kurang Rp1,2 miliar untuk mencapai target Rp13 miliar.
Karena kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan channel utama, maka kita perlu strategi tambahan:
✅ TikTok Shop → Rp1 miliar
✅ Website → Rp300 juta
✅ Marketplace → Rp500 juta
✅ Repeat Order → Rp600 juta
✅ Live Shopping → Rp600 juta
Total Kenaikan Pendapatan: Rp3 miliar
Dengan strategi ini, target 30% peningkatan pendapatan menjadi lebih realistis dan sesuai dengan tren pelanggan yang berpindah ke TikTok Shop.
Tujuan marketing harus lebih spesifik pada bagaimana strategi pemasaran membantu mencapai target bisnis tersebut. Jadi, setelah tahu bahwa tujuan bisnis adalah meningkatkan pendapatan 30%, sekarang kita harus bikin tujuan marketing yang jelas dan terukur.
Baca juga ini: Marketing Funnel: Pengertian, Model, dan Strategi Terbaik
Tujuan Bisnis: Meningkatkan pendapatan dari Rp10 miliar → Rp13 miliar dalam 1 tahun.
Peran Marketing: Membantu meningkatkan penjualan dari berbagai channel yang sudah ditentukan.
Maka, tujuan marketing bisa dibuat seperti ini:
1. Meningkatkan traffic & konversi di TikTok Shop
2. Meningkatkan engagement & conversion rate di website
3. Memastikan marketplace tetap stabil dengan strategi margin lebih tinggi
4. Meningkatkan customer retention untuk mendorong repeat order
5. Memanfaatkan live shopping di Instagram & WhatsApp sebagai channel baru
Kalau kita salah memahami siapa audiens kita, semua strategi marketing bisa jadi sia-sia. Pesan yang kita buat bisa nggak nyambung, promosi kita nggak menarik, dan akhirnya nggak menghasilkan konversi yang diharapkan.
Jadi, sebelum melangkah lebih jauh, kita harus benar-benar paham siapa yang akan kita targetkan dalam strategi marketing ini.
Langkah pertama adalah melihat data pelanggan dari tahun sebelumnya. Beberapa pertanyaan yang bisa kita jawab:
Dari mana mereka lebih banyak membeli?
Siapa pelanggan yang paling sering beli?
Produk apa yang paling sering mereka beli?
Dari data yang sudah kita kumpulkan, kita bisa membagi target audiens ke dalam beberapa segmen berdasarkan demografi, perilaku, dan preferensi belanja.
Misalnya, berdasarkan analisis sebelumnya, kita menemukan dua tipe audiens utama:
Pelanggan lama yang loyal, tapi mulai berpindah ke TikTok Shop
Pelanggan baru yang datang dari TikTok
Dengan memahami ini, kita bisa menyesuaikan strategi marketing supaya lebih efektif.
Kalau masih ragu, kita bisa pakai berbagai tools untuk mendapatkan insight tambahan tentang target audiens:
Google Analytics → Untuk melihat siapa yang mengunjungi website kita, dari mana asal mereka, dan produk apa yang mereka lihat.
TikTok Shop Seller Center → Untuk melihat performa produk di TikTok, siapa pembeli utamanya, dan tren belanja mereka.
Facebook & Instagram Insights → Untuk memahami audiens dari sisi demografi dan interest mereka.
CRM & WhatsApp Marketing Data → Untuk melihat siapa yang sering melakukan repeat order dan bagaimana mereka berinteraksi dengan brand.
Setelah kita memahami target audiens, langkah selanjutnya adalah melihat bagaimana kompetitor bermain di pasar. Riset kompetitor bukan sekadar mencari tahu apa yang mereka lakukan, tapi juga menemukan celah dan peluang yang bisa kita manfaatkan agar lebih unggul.
Banyak bisnis yang terlalu fokus pada strategi sendiri, tanpa melihat bagaimana pasar bergerak. Padahal, dengan memahami kompetitor, kita bisa:
Tidak semua bisnis di industri kita adalah kompetitor langsung. Kita perlu mengelompokkan mereka berdasarkan tipe berikut:
1️⃣ Kompetitor langsung → Brand dengan produk yang mirip dan target audiens yang sama.
2️⃣ Kompetitor tidak langsung → Brand yang menawarkan solusi berbeda, tapi masih bersaing dalam memenuhi kebutuhan pelanggan yang sama.
3️⃣ Kompetitor baru → Pemain baru yang mulai mendapatkan perhatian di pasar dan berpotensi menjadi ancaman.
Misalnya, jika kita adalah brand fashion lokal, maka:
Sekarang, kita perlu menganalisis bagaimana mereka menjalankan strategi pemasaran. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan:
Untuk mendapatkan insight yang lebih dalam, kita bisa menggunakan beberapa tools berikut:
Google Trends → Melihat tren pencarian terkait brand atau produk kompetitor.
Social Listening Tools (Brandwatch, Hootsuite, dll.) → Melihat percakapan pelanggan tentang kompetitor di media sosial.
Marketplace & TikTok Shop Analytics → Menganalisis performa produk kompetitor, harga, dan strategi promosi mereka.
Review & Testimonial Pelanggan → Membaca ulasan di marketplace, media sosial, atau forum diskusi untuk melihat kekuatan dan kelemahan kompetitor.
Setelah memahami tujuan bisnis dan melakukan riset kompetitor, sekarang saatnya menentukan apa yang membuat brand kita berbeda dan lebih menarik dibanding kompetitor. USP (Unique Selling Proposition) bukan hanya sekadar slogan atau fitur produk, tetapi sebuah nilai unik yang bisa benar-benar dirasakan oleh pelanggan.
Dari analisis sebelumnya, kita tahu bahwa brand ingin meningkatkan pendapatan 30% dengan strategi utama:
✅ Meningkatkan penjualan di TikTok Shop sebesar 20% dalam setahun.
✅ Meningkatkan konversi di website dan marketplace tanpa harus bergantung pada promo besar-besaran.
Dari riset kompetitor dan analisis pelanggan, ada beberapa keunggulan yang bisa dijadikan USP:
💡 USP utama yang bisa digunakan:
"Fashion premium, nyaman dipakai seharian, dengan desain eksklusif yang selalu update setiap minggu!"
USP ini bisa langsung dirasakan oleh pelanggan dan menonjol dibanding kompetitor, terutama dalam konteks strategi pemasaran yang akan difokuskan pada TikTok Shop dan marketplace.
USP ini memenuhi tiga kriteria utama:
✔ Spesifik → Tidak hanya bilang "fashion berkualitas", tapi menyebut bahan premium yang nyaman seharian.
✔ Relevan dengan pelanggan → Berdasarkan riset, pelanggan mencari desain yang tidak pasaran dan nyaman untuk dipakai di iklim tropis.
✔ Membedakan dari kompetitor → Banyak kompetitor fokus pada harga murah atau desain trendy, tetapi tidak menonjolkan kenyamanan bahan dan eksklusivitas desain.
Setelah menemukan USP, langkah selanjutnya adalah menerapkannya dalam berbagai aspek pemasaran:
✅ TikTok Shop & Marketplace:
✅ Konten & Sosial Media:
✅ Iklan & Kampanye Marketing:
Setelah menentukan USP, langkah selanjutnya adalah memilih channel pemasaran yang paling efektif untuk mencapai target bisnis. Tidak semua channel cocok untuk setiap brand, jadi pemilihannya harus disesuaikan dengan di mana target audiens berada dan bagaimana mereka berinteraksi dengan brand.
Kembali ke contoh brand fashion lokal kita, tujuan bisnisnya adalah meningkatkan pendapatan 30% dalam setahun, dengan strategi:
Berdasarkan riset sebelumnya, audiens utama adalah perempuan usia 18–35 tahun yang aktif mencari outfit stylish dan nyaman, sering belanja online, dan banyak terpengaruh oleh konten media sosial.
Dari sini, kita bisa menentukan channel yang paling efektif:
| Channel | Alasan Pemilihan | Strategi yang Bisa Digunakan |
| TikTok Shop | TikTok Shop terus berkembang, banyak pelanggan brand yang sudah pindah ke sini. | - Live shopping rutin dengan USP yang jelas.- Kolaborasi dengan creator TikTok untuk review & unboxing.- Konten FYP-friendly yang menunjukkan kenyamanan produk. |
| Website (D2C) | Channel dengan margin lebih tinggi, dan bisa meningkatkan brand loyalty. | - Gunakan landing page khusus dengan storytelling kuat tentang bahan & desain.- Remarketing untuk menarik kembali pengunjung yang belum checkout.- Campaign "Beli langsung dari website = lebih eksklusif & lebih cepat sampai." |
| Shopee & Tokopedia | Masih jadi platform utama untuk e-commerce di Indonesia, perlu tetap dijaga performanya. | - Optimasi SEO & deskripsi produk agar lebih menonjol.- Fokus pada strategi konten & ulasan pelanggan dibanding hanya promo diskon. |
| Instagram & TikTok (Organik & Ads) | Banyak pelanggan mencari inspirasi fashion di sini. | - Konten "OOTD dengan bahan super nyaman" + CTA beli di TikTok Shop.- Storytelling tentang perjalanan produk, dari desain hingga produksi.- Ads retargeting untuk mengingatkan pembeli yang belum checkout. |
| Influencer & KOL | Audiens target banyak yang mempercayai rekomendasi influencer. | - Pilih KOL yang sesuai dengan brand image.- Gunakan micro-influencer untuk engagement lebih tinggi. |
Banyak brand melakukan kesalahan dengan menyebar ke semua channel tanpa strategi yang jelas. Ini bisa membuang waktu dan budget.
Pendekatan yang lebih efektif:
✔ Fokus ke TikTok Shop dulu karena ini adalah tempat di mana pelanggan sudah mulai berpindah.
✔ Jaga website dan marketplace tetap optimal untuk pelanggan yang lebih suka checkout di sana.
✔ Gunakan Instagram & TikTok Ads untuk mendukung awareness dan retargeting.
✔ Hindari platform yang tidak relevan, seperti LinkedIn atau Facebook (karena audiens target lebih muda).
Sebagai gambaran, berikut adalah contoh campaign yang bisa diterapkan di setiap channel dalam 3 bulan pertama:
| Bulan | TikTok Shop | Website & Marketplace | Sosial Media & Ads |
| Bulan 1 | 2x Live Shopping/minggu, testing jam terbaik. | Optimasi halaman produk & deskripsi di Shopee & Tokopedia. | Konten "OOTD dengan bahan super nyaman" & storytelling USP. |
| Bulan 2 | Kolaborasi dengan 3 KOL untuk review produk. | Tambahkan campaign "Beli di website lebih eksklusif." | Retargeting ads ke mereka yang klik produk tapi belum beli. |
| Bulan 3 | Scale up ads TikTok untuk video yang paling perform. | Evaluasi & tingkatkan konversi dengan promo bundling di marketplace. | Kampanye giveaway kecil untuk engagement & awareness. |
Memilih channel pemasaran tidak bisa asal ikut tren, harus berdasarkan di mana audiens berada dan bagaimana mereka berinteraksi dengan brand.
Dengan memilih TikTok Shop, Website, Marketplace, dan Ads sebagai fokus utama, brand ini bisa lebih efektif dalam mencapai target peningkatan pendapatan 30% dalam setahun.
Setelah memilih channel pemasaran yang tepat, langkah selanjutnya adalah membuat strategi konten yang bisa menarik perhatian target audiens, memperkuat brand awareness, dan akhirnya mendorong konversi.
Karena contoh bisnis kita adalah brand fashion lokal yang ingin meningkatkan pendapatan 30% dalam setahun, maka strategi konten harus:
| Channel | Jenis Konten yang Cocok | Tujuan Konten |
| TikTok Shop | - Live shopping interaktif- Video pendek FYP-friendly (OOTD, before-after, review pelanggan)- Challenge/UGC (User Generated Content) | - Meningkatkan engagement & interaksi langsung.- Meningkatkan konversi lewat live shopping. |
| Website (D2C) | - Blog tentang fashion tips & tren- Video & foto produk yang menampilkan detail bahan dan kenyamanan- Testimoni pelanggan dalam bentuk artikel/video | - Meningkatkan kepercayaan pelanggan.- Memposisikan brand sebagai pilihan utama untuk fashion nyaman. |
| Shopee & Tokopedia | - Foto produk yang menarik dan profesional- Video pendek 30 detik yang menunjukkan bahan & fit pakaian- Testimoni & ulasan pelanggan | - Meningkatkan CTR (Click-Through Rate) di marketplace.- Mengurangi keraguan pelanggan sebelum membeli. |
| Instagram & TikTok (Organik & Ads) | - Video "How to style" dengan produk brand- Behind the scenes pembuatan produk- Polling & interaksi di Instagram Stories | - Meningkatkan engagement.- Membangun komunitas pelanggan yang loyal. |
| Influencer & KOL | - Unboxing & review produk- Challenge atau giveaway- Outfit inspiration dengan produk brand | - Meningkatkan social proof.- Menjangkau audiens baru yang potensial. |
Agar lebih konkret, berikut rencana konten selama 3 bulan pertama:
| Bulan | TikTok Shop | Website & Marketplace | Sosial Media & Ads |
| Bulan 1 | - 2x Live Shopping/minggu dengan host menarik.- Video FYP "OOTD dengan bahan super nyaman". | - Update foto & video produk dengan lebih detail.- Artikel blog: "Cara memilih pakaian nyaman untuk sehari-hari." | - Ads soft-selling: "Coba sendiri, bahan seenak itu!"- Behind the scenes pembuatan produk. |
| Bulan 2 | - Live shopping dengan promo eksklusif tanpa diskon besar.- Challenge "OOTD Challenge" di TikTok. | - Tambahkan testimoni video pelanggan di website & marketplace.- Bundling produk untuk upselling. | - Influencer review produk + CTA beli di TikTok Shop.- Polling IG Stories: "Lebih suka warna A atau B?" |
| Bulan 3 | - Analisis data live shopping: waktu terbaik, produk paling laku.- Kolaborasi dengan micro-influencer untuk live shopping. | - Evaluasi konversi, optimasi CTA & landing page.- Artikel blog: "5 OOTD effortless tapi tetap stylish". | - Retargeting ads ke pelanggan yang sudah klik tapi belum beli.- Giveaway kecil untuk meningkatkan engagement. |
💡 Tema: "Cari Outfit Nyaman & Stylish? Coba Ini!"
🎯 Goal: Meningkatkan penjualan di TikTok Shop
📅 Frekuensi: 2x seminggu
📌 Strategi:
💡 Tema: "OOTD Challenge: Outfit Nyaman Buat Seharian!"
🎯 Goal: Meningkatkan engagement & awareness
📌 Strategi:
💡 Tema: "Pakai outfit ini, nyaman seharian!"
🎯 Goal: Meningkatkan social proof
📌 Strategi:
💡 Tema: "Dibalik Outfit Nyaman Ini, Ada Perjalanan Panjang!"
🎯 Goal: Meningkatkan brand trust & engagement
📌 Strategi:
Strategi konten yang menarik bukan hanya soal viral, tapi juga harus mendukung tujuan bisnis utama:
Dengan pendekatan ini, strategi konten bisa menjadi motor utama dalam meningkatkan pendapatan brand hingga 30% dalam setahun.
Setelah menentukan strategi konten, langkah selanjutnya adalah menetapkan anggaran marketing yang efisien agar setiap channel pemasaran dapat memberikan hasil maksimal.
Karena tujuan bisnis kita adalah meningkatkan pendapatan 30% dalam setahun, maka anggaran harus dialokasikan berdasarkan ROI (Return on Investment) dan prioritas channel yang paling potensial.
Sebelum menetapkan anggaran, kita perlu melihat performa bisnis di tahun sebelumnya.
📌 Pendapatan Total Tahun Lalu: Rp10 Miliar
📌 Distribusi Pendapatan:
📌 Marketing Budget Tahun Lalu: Rp1 Miliar
📌 ROAS Rata-rata Tahun Lalu: 4,5x
📌 Sumber Pendapatan:
Dari sini, kita bisa melihat bahwa hampir setengah dari total pendapatan tahun lalu berasal dari paid marketing. Artinya, strategi marketing berbayar masih menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis.
Untuk mencapai target pendapatan Rp13 Miliar di tahun ini, kita perlu memastikan bahwa strategi marketing yang digunakan dapat mendukung pertumbuhan ini.
🎯 Strategi:
Budget Marketing Tahun Ini (10% dari Target Pendapatan): Rp1,3 Miliar
Dengan asumsi ini, kita perlu memastikan bahwa anggaran yang dialokasikan dapat menghasilkan return yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Untuk mencapai target pendapatan dari paid marketing sebesar Rp7 Miliar dengan anggaran Rp1,3 Miliar, kita harus memiliki target ROAS rata-rata sebesar 5,4x.
Benchmark ROAS di Industri Fashion & E-commerce:
| Channel | Benchmark ROAS Industri | Target ROAS Baru |
| TikTok Ads & Live Shopping | 3x - 5x | 5,5x |
| Performance Ads (Website & Marketplace Ads) | 4x - 6x | 6x |
| Influencer & KOL Marketing | 2,5x - 4x | 4,5x |
| SEO & Website Optimasi | 3x - 5x | 5x |
| Event & Partnership | 2x - 4x | 4x |
Dengan mempertimbangkan data industri dan performa tahun lalu, target ROAS ini masih dalam batas yang realistis untuk dicapai.
Agar hasilnya maksimal, anggaran marketing akan dibagi sesuai dengan efektivitas masing-masing channel pemasaran.
| Kategori | Persentase | Alokasi Dana | Target ROAS | Estimasi Pendapatan |
| TikTok Ads & Live Shopping | 40% | Rp520 Juta | 5,5x | Rp2,86 Miliar |
| Performance Ads (Website & Marketplace Ads) | 35% | Rp455 Juta | 6x | Rp2,73 Miliar |
| Influencer & KOL Marketing | 15% | Rp195 Juta | 4,5x | Rp877,5 Juta |
| SEO & Website Optimasi | 5% | Rp65 Juta | 5x | Rp325 Juta |
| Event & Partnership | 5% | Rp65 Juta | 4x | Rp260 Juta |
Dengan alokasi ini, setiap channel mendapatkan porsi anggaran yang sesuai dengan efektivitasnya dalam mendatangkan konversi.
Setelah mengalokasikan anggaran dengan target ROAS yang sesuai, kita bisa memperkirakan total pendapatan yang akan dicapai.
Dengan strategi ini, anggaran marketing tidak hanya mendukung pertumbuhan bisnis tetapi juga memastikan bahwa setiap investasi yang dikeluarkan memberikan return yang optimal.
Setelah menentukan anggaran pemasaran, langkah berikutnya adalah menyusun strategi campaign dan promosi yang selaras dengan tujuan bisnis. Kampanye ini harus didesain untuk mendukung pertumbuhan di setiap channel, baik TikTok Shop, website, maupun marketplace, dengan tetap mempertahankan keseimbangan antara strategi organik dan berbayar.
Strategi ini bertujuan untuk:
Dengan tujuan ini, campaign yang dibuat harus relevan dengan target audiens dan memperhitungkan pola konsumsi mereka di berbagai platform.
Berdasarkan karakteristik tiap channel, berikut strategi yang akan digunakan:
Agar campaign berjalan efektif, promosi harus terjadwal dengan baik. Berikut gambaran rencana campaign selama satu tahun:
| Bulan | Campaign Utama | Channel Fokus |
| Januari | New Year Sale | Website & Marketplace |
| Februari | Valentine Special | TikTok & Website |
| Maret | Payday & Flash Sale | Marketplace & TikTok |
| April - Mei | Ramadan & Lebaran Campaign | Semua Channel |
| Juni | Mid-Year Sale | Marketplace & Website |
| Juli - Agustus | Back to School & Payday | TikTok & Marketplace |
| September | Brand Anniversary Promo | Website & TikTok |
| Oktober - November | 10.10 & 11.11 Mega Sale | Marketplace & TikTok |
| Desember | 12.12 Grand Year End Sale | Semua Channel |
Dengan perencanaan ini, setiap bulan ada campaign yang sesuai dengan tren pasar, sehingga dapat mempertahankan momentum pertumbuhan sepanjang tahun.
Agar strategi marketing berjalan efektif dan tetap sesuai dengan tujuan bisnis, pemantauan dan evaluasi secara berkala sangat diperlukan. Dengan mengukur performa setiap channel, kita dapat mengidentifikasi strategi yang berhasil serta memperbaiki yang kurang optimal.
Untuk mendapatkan insight yang akurat, gunakan berbagai tools analisis seperti:
Penggunaan data yang akurat membantu pengambilan keputusan lebih cepat dan tepat.
Evaluasi dilakukan setiap bulan atau per kuartal untuk memastikan strategi tetap berada di jalur yang tepat. KPI yang digunakan mengacu pada target yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu:
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan realisasi angka dengan target, sehingga bisa segera dilakukan penyesuaian strategi jika ada channel yang kurang optimal.
Berdasarkan data yang dikumpulkan, langkah-langkah berikut dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas strategi:
Dengan pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan, bisnis dapat memastikan bahwa strategi marketing tetap berjalan optimal dan target pertumbuhan pendapatan dapat tercapai.
Strategi marketing bukanlah sesuatu yang statis. Agar tetap efektif dalam mencapai target pendapatan Rp13 miliar, bisnis perlu terus beradaptasi dengan perubahan pasar dan mengoptimalkan strategi berdasarkan data yang telah dikumpulkan.
Berdasarkan rencana sebelumnya, pendapatan diharapkan berasal dari beberapa channel utama:
Evaluasi rutin perlu dilakukan untuk memastikan setiap channel mencapai targetnya. Jika ada channel yang kinerjanya di bawah ekspektasi, optimasi harus segera dilakukan, seperti:
Anggaran marketing sebesar Rp1,3 miliar telah dialokasikan dengan target ROAS sebagai berikut:
Jika ada channel yang tidak mencapai target ROAS, bisnis harus melakukan penyesuaian, misalnya:
Jika ada channel yang menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi dari ekspektasi, bisnis bisa mengalokasikan lebih banyak budget ke channel tersebut. Contohnya:
Agar strategi tetap segar dan relevan, bisnis harus terus menguji metode baru, seperti:
Dengan pendekatan berbasis data dan fleksibilitas dalam eksekusi, strategi marketing bisa terus berkembang dan mencapai target pendapatan yang telah ditetapkan.
Dengan marketing plan yang terstruktur dan berbasis data, bisnis dapat meningkatkan pendapatan hingga Rp13 miliar dengan strategi yang tepat sasaran. Kunci keberhasilan terletak pada eksekusi yang disiplin, pemantauan yang konsisten, serta kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan pasar.
Marketing bukan sekadar menjalankan campaign, tetapi juga tentang memahami audiens, memilih channel yang efektif, dan terus mengoptimalkan strategi untuk mencapai ROI yang maksimal. Dengan pendekatan ini, bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan tanpa harus bergantung pada diskon berlebihan.
Untuk membantu Anda dalam menyiapkan dan mengevaluasi marketing plan, berikut checklist yang bisa digunakan:
Dengan checklist ini, bisnis dapat memastikan bahwa setiap langkah dalam marketing plan telah direncanakan dengan matang dan siap dieksekusi dengan optimal.
Dapatkan strategi dan insight terbaru untuk mengembangkan bisnismu langsung di inbox. Plus, jadi yang pertama tahu jika ada sesi sharing offline gratis!
💬 Butuh checklist ini dalam format template Asana atau CSV? Klik di sini untuk download template gratisnya!