Lifekit.id logo long png 1

STP Marketing: Pengertian, Contoh, dan Cara Menentukannya

marketing
Last updated: 
March 31, 2025
STP Marketing: Pengertian, Contoh, dan Cara Menentukannya

Pernah merasa kesulitan menentukan siapa sebenarnya audiens yang tepat untuk produkmu? Atau mungkin, sudah lama menjalankan kampanye pemasaran tapi hasilnya kurang maksimal? Bisa jadi, masalahnya ada pada cara kamu menargetkan audiens.

Di sinilah STP Marketing hadir sebagai solusi. Dengan pendekatan Segmentasi, Targeting, dan Positioning (STP), kamu bisa lebih fokus dan tepat sasaran dalam menyampaikan pesan kepada pelanggan yang benar-benar membutuhkan produkmu.

Dalam artikel ini, kita bakal bahas lebih dalam tentang apa itu STP Marketing, kenapa strategi ini penting untuk bisnis, dan bagaimana cara kamu menerapkannya dengan contoh nyata dari industri skincare. Kita akan lihat bagaimana sebuah brand skincare bisa menentukan strategi STP yang tepat untuk menonjol di pasar yang semakin penuh persaingan. Siap untuk menggali lebih jauh?

1. Apa Itu STP Marketing?

STP Marketing adalah pendekatan strategis dalam pemasaran yang bertujuan untuk membantu bisnis memahami pasar mereka dengan lebih baik, memfokuskan upaya pemasaran pada audiens yang tepat, dan menciptakan pesan yang relevan. Dengan menggunakan STP, bisnis dapat lebih mudah membagi pasar, memilih segmen yang paling potensial, dan menentukan cara terbaik untuk memposisikan produk mereka agar dapat lebih menonjol di mata konsumen.

1.1. Pengertian STP dalam Pemasaran

  • Segmentasi: Proses pertama dalam STP adalah membagi pasar menjadi kelompok-kelompok berdasarkan karakteristik tertentu. Karakteristik ini bisa berupa demografi, psikografi, perilaku pembelian, atau geografi. Tujuan dari segmentasi adalah untuk memahami lebih dalam siapa audiens yang benar-benar membutuhkan produkmu. Misalnya, untuk brand skincare, segmentasi bisa dilakukan berdasarkan usia, jenis kelamin, jenis kulit, atau bahkan masalah kulit tertentu seperti jerawat atau penuaan dini.
  • Targeting: Setelah segmentasi, langkah berikutnya adalah memilih segmen pasar yang paling potensial untuk bisnis. Dalam tahap ini, kamu menentukan segmen mana yang memiliki kebutuhan paling mendesak, daya beli yang cukup, dan minat yang lebih besar terhadap produk yang kamu tawarkan. Misalnya, jika brand skincare kamu mengutamakan produk anti-aging, maka target audiensnya adalah wanita usia 30 tahun ke atas yang lebih peduli dengan perawatan kulit dan pencegahan tanda penuaan.
  • Positioning: Tahap terakhir adalah menentukan bagaimana brand ingin dikenal oleh target pasar. Positioning berkaitan dengan penciptaan persepsi di benak konsumen tentang bagaimana produk atau layananmu berbeda dan lebih baik daripada kompetitor. Ini adalah tahap di mana kamu menjelaskan nilai unik produkmu, baik itu dari segi manfaat, kualitas, atau pengalaman yang diberikan. Misalnya, brand skincare bisa memposisikan produknya sebagai “solusi anti-aging alami” yang terbuat dari bahan organik dan ramah lingkungan.

Dengan memahami dan menerapkan ketiga langkah ini, STP Marketing membantu bisnis menciptakan kampanye yang lebih terfokus dan efektif, menghindari pemborosan anggaran, dan meningkatkan daya tarik brand di pasar yang semakin ramai.

1.2. Kenapa STP Marketing Penting?

STP Marketing bukan hanya sekadar teori pemasaran; ini adalah strategi yang benar-benar dapat membantu bisnis berkembang dengan lebih terarah dan efektif. Berikut adalah beberapa alasan mengapa STP Marketing sangat penting untuk kesuksesan bisnis:

  • Membantu Bisnis Fokus pada Pelanggan yang Tepat
    Dengan STP, bisnis dapat mengidentifikasi dan fokus pada segmen pasar yang benar-benar membutuhkan produk mereka. Alih-alih mencoba untuk menarik semua orang, STP membantu bisnis untuk lebih terfokus pada kelompok pelanggan yang memiliki potensi terbesar untuk membeli dan loyal terhadap produk atau layanan. Misalnya, jika kamu menjalankan bisnis skincare, STP membantu kamu untuk lebih fokus pada segmen wanita usia 30 ke atas yang menginginkan produk anti-aging, daripada mencoba menarik semua kelompok usia.
  • Meningkatkan Efisiensi Pemasaran dan ROI
    Dengan memfokuskan upaya pemasaran pada segmen yang tepat, bisnis dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif. Hal ini mengurangi pemborosan anggaran iklan dan memungkinkan untuk meningkatkan Return on Investment (ROI). Misalnya, alih-alih melakukan iklan massal yang menjangkau audiens luas namun kurang tepat sasaran, dengan STP, iklan dapat ditargetkan pada kelompok yang lebih spesifik, seperti wanita dengan masalah kulit tertentu atau yang tertarik pada produk-produk alami, sehingga lebih efisien dan menghasilkan hasil yang lebih maksimal.
  • Membedakan Brand dari Kompetitor
    STP Marketing juga memungkinkan brand untuk membedakan diri mereka dari kompetitor. Dengan posisi yang jelas di benak konsumen, brand bisa memiliki keunggulan kompetitif yang kuat. Misalnya, jika banyak brand skincare lain yang menawarkan produk dengan bahan kimia, brand kamu bisa memposisikan diri sebagai "skincare organik untuk kulit sensitif", yang menawarkan nilai lebih bagi konsumen yang peduli dengan bahan alami. Ini tidak hanya membedakan brand, tetapi juga meningkatkan loyalitas konsumen karena mereka merasa produkmu lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Baca juga: Kompetitor Monitoring: Cara Mengamati Strategi Pesaing Tanpa Terlihat

2. Cara Menerapkan STP Marketing (Contoh Brand Skincare)

Sebagai contoh, kita akan menggunakan brand skincare fiktif bernama GlowSkin, yang ingin meluncurkan lini produk perawatan kulit baru. Dengan menerapkan STP Marketing, GlowSkin bisa memastikan produk mereka menjangkau audiens yang tepat dan memenuhi kebutuhan mereka secara efektif.

Baca juga: 11 langkah marketing plan brand sukses di Indonesia + Ceklis

2.1. Segmentasi Pasar (Segmentation)

Langkah pertama dalam menerapkan STP Marketing adalah segmentasi pasar. GlowSkin perlu membagi audiens mereka menjadi kelompok-kelompok berdasarkan karakteristik tertentu yang relevan dengan produk skincare mereka. Berikut cara GlowSkin bisa melakukan segmentasi pasar:

  • Demografi:

Segmentasi berdasarkan usia, gender, dan pendapatan dapat membantu GlowSkin memahami siapa yang paling membutuhkan produk mereka. 

Misalnya, tim riset GlowSkin menyadari bahwa produk skincare untuk remaja berjerawat akan berbeda dengan produk untuk wanita 30+ yang mencari solusi anti-aging. 

Karena itu, faktor demografi yang perlu di-segmentasikan GlowSkin adalah:

  • Usia: Remaja, dewasa muda, wanita 30+
  • Gender: Wanita
  • Tingkat Pendapatan: Produk premium atau terjangkau
  • Geografi:

Selain demografi, faktor geografi juga mempengaruhi kebutuhan skincare konsumen.

Misalnya, orang yang tinggal di daerah dengan iklim tropis mungkin membutuhkan produk dengan perlindungan SPF yang lebih tinggi, sementara di daerah dengan iklim dingin, pelembap menjadi lebih penting. 

Dengan demikian, segmentasi berdasarkan lokasi geografis yang perlu dipertimbangkan oleh GlowSkin meliputi:

  • Wilayah: Urban vs. rural
  • Iklim: Negara dengan cuaca tropis vs. dingin
  • Psikografi:

Faktor psikografis mencakup nilai, gaya hidup, dan minat konsumen. 

Misalnya, ada konsumen yang lebih peduli dengan produk berbahan alami atau yang mencari harga lebih terjangkau. Tim riset pasar GlowSkin harus mengenali hal ini untuk dapat menyesuaikan pesan pemasaran dan produk yang ditawarkan. 

Segmentasi berdasarkan psikografi bisa meliputi:

  • Konsumen yang peduli bahan alami
  • Konsumen yang mencari produk dengan harga terjangkau
  • Perilaku:

Perilaku konsumen adalah faktor penting lainnya dalam segmentasi. GlowSkin perlu mengetahui apakah audiens mereka merupakan pelanggan yang loyal atau pengguna baru yang pertama kali mencoba produk mereka. 

Selain itu, apakah konsumen tersebut menggunakan skincare secara rutin atau hanya sesekali? Faktor-faktor perilaku ini bisa memengaruhi cara GlowSkin mengembangkan dan memasarkan produknya. 

Segmentasi perilaku yang perlu dipertimbangkan adalah:

  • Pelanggan loyal vs. first-time buyers
  • Penggunaan skincare rutin vs. tidak rutin

Contoh Segmentasi untuk GlowSkin:

  1. Remaja dengan kulit berminyak dan rentan berjerawat. Mereka membutuhkan produk perawatan yang efektif untuk mengatasi masalah kulit berjerawat tanpa iritasi.
  2. Wanita usia 25–35 tahun yang mencari produk anti-aging berbahan alami. Mereka cenderung lebih peduli dengan bahan-bahan alami dan menginginkan solusi untuk mencegah tanda-tanda penuaan.
  3. Pria profesional yang menginginkan skincare simpel dan praktis. Produk yang mudah digunakan tanpa banyak langkah, cocok untuk pria yang sibuk dan menginginkan perawatan kulit yang efektif namun tidak ribet.

Dengan segmentasi yang jelas, GlowSkin dapat memilih segmen mana yang paling potensial untuk ditargetkan dan lebih mudah mengembangkan pesan yang tepat untuk masing-masing kelompok.

2.2. Menentukan Target Pasar (Targeting)

Setelah melakukan segmentasi pasar, langkah selanjutnya adalah menentukan target pasar. GlowSkin memilih untuk menargetkan wanita usia 25–35 tahun yang mencari produk anti-aging berbahan alami. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai alasan dan strategi targeting untuk GlowSkin:

Kenapa Memilih Segmen Ini?

  • Tren Kecantikan Alami Sedang Naik Daun:

Seiring dengan semakin populernya tren kecantikan yang berfokus pada bahan alami, wanita usia 25–35 tahun menjadi segmen yang tepat. Mereka cenderung lebih peduli dengan bahan-bahan alami dan memiliki kesadaran yang lebih tinggi tentang perawatan kulit yang efektif dan aman.

  • Daya Beli Lebih Tinggi:

Kelompok usia ini umumnya berada dalam fase karier yang stabil dan memiliki daya beli yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja. Mereka lebih cenderung untuk membeli produk dengan harga premium jika produk tersebut menawarkan manfaat yang jelas bagi kulit mereka.

  • Loyalitas terhadap Brand:

Wanita di usia ini lebih loyal terhadap brand yang memenuhi kebutuhan mereka. Jika GlowSkin berhasil menyampaikan manfaat produk anti-aging yang mereka butuhkan, peluang untuk menciptakan pelanggan setia akan lebih besar. Loyalitas pelanggan ini sangat berharga untuk brand skincare.

Strategi Targeting untuk GlowSkin

Untuk menargetkan segmen ini secara efektif, GlowSkin dapat menggunakan differentiated marketing, yaitu strategi pemasaran yang disesuaikan khusus untuk audiens ini. Berikut beberapa taktik yang bisa diterapkan:

  • Iklan di Instagram dan TikTok dengan Edukasi tentang Bahan Alami:

Platform ini sangat populer di kalangan target audiens. GlowSkin bisa memanfaatkan media sosial untuk mengedukasi audiens tentang manfaat bahan alami dalam produk anti-aging mereka, serta cara penggunaan yang tepat. Konten edukatif ini dapat berupa video pendek, infografis, atau tips tentang perawatan kulit alami.

  • Kolaborasi dengan Beauty Influencer yang Membahas Aging-Prevention:

Kolaborasi dengan influencer atau beauty guru yang dikenal di kalangan target pasar dapat meningkatkan kredibilitas brand. Influencer ini dapat berbagi pengalaman mereka menggunakan produk GlowSkin, memberikan review, atau bahkan menciptakan konten tentang cara mencegah penuaan kulit.

  • Menawarkan Promo Bundle Skincare Anti-Aging untuk Membangun Loyalitas Pelanggan:

GlowSkin bisa menarik perhatian target pasar dengan menawarkan promo bundle yang terdiri dari produk-produk anti-aging terbaik mereka. Dengan memberikan harga spesial atau diskon untuk pembelian produk dalam bundling, GlowSkin dapat mendorong pelanggan untuk mencoba lebih banyak produk dan memperkuat loyalitas terhadap brand.

Dengan pendekatan yang lebih terfokus pada segmen ini, GlowSkin dapat memaksimalkan efektivitas strategi pemasaran mereka, menjangkau audiens yang lebih tepat, dan mendorong pertumbuhan penjualan yang signifikan.

2.3. Menentukan Positioning (Positioning)

Positioning adalah tentang bagaimana GlowSkin ingin dikenal oleh audiens targetnya. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa brand dapat menonjol di pasar yang kompetitif dan menciptakan kesan yang kuat di benak konsumen.

Langkah Menentukan Positioning

  1. Identifikasi Keunggulan Unik Produk: 

GlowSkin harus menyoroti keunggulan unik yang membedakan produk mereka dari pesaing. Dalam kasus GlowSkin, salah satu keunggulan utamanya adalah penggunaan bahan alami, yang bebas dari bahan berbahaya seperti paraben dan aman digunakan pada kulit sensitif

Keunggulan ini memberikan nilai lebih bagi konsumen yang mencari produk skincare yang aman dan efektif.

  1. Buat Value Proposition yang Jelas: 

Value proposition adalah alasan mengapa konsumen harus memilih GlowSkin dibandingkan brand lain. Misalnya, GlowSkin dapat menggunakan value proposition yang menggambarkan manfaat utama produk secara langsung, seperti:

"GlowSkin: Anti-Aging Skincare dengan Bahan Alami, Tanpa Drama."

Dengan value proposition ini, GlowSkin menekankan bahwa produk mereka memberikan hasil yang efektif tanpa menimbulkan efek samping negatif, dan sangat cocok untuk pelanggan yang peduli akan bahan alami.

  1. Gunakan Komunikasi yang Konsisten: 

Untuk menciptakan positioning yang kuat, GlowSkin harus memastikan komunikasi brand mereka konsisten di berbagai saluran. Mulai dari website, media sosial, hingga kemasan produk, semua elemen ini harus mencerminkan positioning yang sama. 

Ini akan membantu memperkuat persepsi konsumen tentang brand GlowSkin sebagai pilihan utama untuk skincare anti-aging berbahan alami.

Contoh Positioning untuk GlowSkin

  • Brand A: Skincare anti-aging dengan teknologi mutakhir.
  • Brand B: Skincare untuk semua jenis kulit dengan harga terjangkau.
  • GlowSkin: Skincare anti-aging berbahan alami, aman untuk kulit sensitif, dan efektif melawan tanda-tanda penuaan.

Dengan positioning seperti ini, GlowSkin menonjol di antara kompetitornya. Brand ini bukan hanya menawarkan solusi anti-aging, tetapi juga menekankan keamanan dan keberlanjutan dengan menggunakan bahan alami. Positioning ini sangat sesuai dengan audiens target GlowSkin yang peduli dengan kesehatan kulit dan mencari produk yang aman, efektif, dan tidak mengandung bahan berbahaya.

Dengan positioning yang jelas dan konsisten, GlowSkin dapat menarik pelanggan yang sesuai dengan visi dan nilai-nilai mereka, serta membedakan diri mereka dari kompetitor yang ada di pasar.

3. Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dan Dihindari Agar STP Marketing Efektif

Menerapkan STP Marketing memang bisa sangat efektif, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar hasilnya optimal, serta beberapa kesalahan yang harus dihindari.

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan

  1. Data yang Akurat dan Relevan: 

Pastikan bahwa data yang digunakan untuk segmentasi adalah data yang akurat dan relevan. Segmentasi yang baik bergantung pada data yang mendalam tentang konsumen, tren pasar, dan preferensi yang berubah seiring waktu. Tanpa data yang tepat, hasil segmentasi bisa meleset dari target.

  1. Fleksibilitas dalam Penyesuaian Strategi: 

Selalu siap untuk menyesuaikan strategi saat pasar atau audiens berubah. Misalnya, perilaku konsumen bisa berubah seiring dengan tren baru, seperti pergeseran preferensi dari produk kimia ke produk alami dalam industri skincare.

  1. Konsistensi Komunikasi Brand: 

Menjaga konsistensi komunikasi di semua saluran pemasaran adalah kunci. Posisi brand yang ingin dibangun harus tercermin dalam setiap titik interaksi dengan pelanggan, dari iklan hingga layanan pelanggan.

  1. Mengutamakan Customer Experience: 

Pemasaran yang baik tak hanya berfokus pada penjualan, tetapi juga pada pengalaman pelanggan yang menyeluruh. Pastikan bahwa audiens merasa didengar dan dihargai sepanjang perjalanan mereka bersama brand Anda.

Hal-Hal yang Harus Dihindari

  1. Terlalu Banyak Segmen:

Meskipun segmentasi bisa memberikan banyak keuntungan, terlalu banyak segmen bisa membuat pemasaran menjadi lebih rumit dan tidak efisien. Fokuslah pada beberapa segmen yang paling menguntungkan dan relevan dengan produk Anda.

  1. Mengabaikan Persaingan: 

Jangan pernah mengabaikan kompetitor saat melakukan positioning. Mengetahui siapa pesaing dan bagaimana mereka memposisikan diri di pasar sangat penting untuk menemukan posisi unik Anda. Jika tidak, brand Anda bisa tumpang tindih dengan pesaing atau bahkan hilang di tengah persaingan.

  1. Over-Promising atau Under-Delivering: 

Hindari over-promising atau memberikan janji yang tidak dapat dipenuhi. Positioning yang kuat harus disertai dengan kemampuan brand untuk memenuhi janji tersebut dalam produk dan layanan. Jika janji tidak dipenuhi, ini bisa merusak reputasi brand dalam jangka panjang.

  1. Tidak Memperbarui Strategi Secara Berkala: 

Pasar terus berubah, begitu juga dengan preferensi konsumen. Jangan biarkan positioning atau segmentasi Anda menjadi terlalu kaku. Evaluasi dan sesuaikan secara berkala untuk tetap relevan dan kompetitif.

Kesimpulan

STP Marketing adalah strategi yang sangat penting bagi brand untuk bisa menonjol di pasar yang semakin kompetitif. Dengan melakukan segmentasi, memilih target yang tepat, dan menentukan positioning yang kuat, GlowSkin (atau brand apapun) dapat memastikan bahwa produk mereka menjangkau audiens yang benar-benar membutuhkan dan menghargai nilai yang ditawarkan.

Penting untuk selalu ingat bahwa STP bukanlah langkah sekali jadi. Strategi ini harus dievaluasi dan disesuaikan seiring waktu agar tetap relevan dengan tren pasar dan perubahan kebutuhan konsumen.

Untuk membantu kamu mempersiapkan dan menerapkan STP Marketing di bisnismu, berikut adalah checklist yang bisa kamu gunakan:

Checklist STP Marketing:

  1. Analisis Pasar
    • Apakah pasar sudah dibagi dengan jelas?
    • Apakah ada segmen yang belum tergarap dengan maksimal?
  2. Segmentasi Pasar
    • Sudahkah kamu mengidentifikasi segmen berdasarkan demografi, geografi, psikografi, dan perilaku?
  3. Pemilihan Target Pasar
    • Apakah segmen yang kamu pilih sesuai dengan tujuan bisnis dan potensi profitabilitas?
  4. Positioning Brand
    • Sudahkah kamu menentukan keunggulan kompetitif brand?
    • Apakah nilai yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan audiens target?
  5. Implementasi Strategi
    • Apakah strategi pemasaran yang dipilih konsisten dengan positioning brand?
    • Sudahkah kamu mengkomunikasikan brand secara jelas melalui semua kanal pemasaran?

Jika kamu ingin terus mendapatkan tips dan trik terbaru tentang marketing, e-commerce, dan pengembangan diri, jangan lupa untuk subscribe ke website Lifekit.id agar kamu jadi orang pertama yang tahu ketika ada insight baru!

Juga, jika kamu butuh template Asana atau CSV untuk membantu kamu menerapkan STP Marketing di bisnismu, jangan ragu untuk chat saya di LinkedIn saya di linkedin.com/in/dimasyoga.

Apakah kamu suka artikel ini?

Rata-rata 0 / 5. Jumlah vote: 0

Belum ada rating untuk artikel ini.

Table of Contents
Primary Item (H2)

Baca yang lainnya

Join the Smart Side of Learning

Gabung ke komunitas LifeKit untuk dapat insight-insight terbaru lainnya setiap minggu!
Subscribe
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram