
Setiap produk memiliki siklus hidupnya sendiri. Dari pertama kali diperkenalkan ke pasar hingga akhirnya mengalami penurunan permintaan, semua produk akan melewati tahapan yang disebut Product Life Cycle (PLC). Inilah alasan mengapa bisnis sering kali berfokus pada strategi pemasaran yang sesuai dengan tahapan produk mereka.
Namun, ada satu hal yang sering diabaikan—Brand Life Cycle (BLC). Berbeda dengan siklus hidup produk, BLC menggambarkan bagaimana sebuah brand berkembang dan bertahan di pasar dalam jangka panjang. Sebuah brand yang kuat bisa terus relevan meskipun produk-produknya mengalami pergantian siklus.
Jadi, apa perbedaan antara Product Life Cycle dan Brand Life Cycle? Mana yang lebih penting? Dan bagaimana bisnis bisa memanfaatkannya untuk strategi yang lebih efektif? Artikel ini akan membahasnya secara lengkap.
Sama seperti makhluk hidup, sebuah produk juga mengalami siklus hidup—mulai dari lahir, tumbuh, mencapai puncak kejayaan, hingga akhirnya mengalami penurunan. Konsep ini dikenal sebagai Product Life Cycle (PLC) atau siklus hidup produk.
Memahami PLC sangat penting karena dapat membantu bisnis menentukan strategi pemasaran, inovasi produk, dan keputusan bisnis lainnya agar tetap relevan di pasar.
Pada tahap ini, produk baru pertama kali diperkenalkan ke pasar. Konsumen masih belum familiar dengan produk ini, sehingga upaya pemasaran berfokus pada edukasi dan awareness.
Strategi yang biasa digunakan:
Contoh:
Saat Tesla pertama kali meluncurkan mobil listriknya, pasar masih belum terbiasa dengan teknologi ini. Tesla harus mengedukasi konsumen mengenai manfaat mobil listrik dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.
Jika produk berhasil melewati tahap pertama, permintaan akan mulai meningkat pesat. Kompetitor pun mulai bermunculan, sehingga strategi diferensiasi menjadi sangat penting.
Strategi yang biasa digunakan:
Contoh:
Saat kopi susu kekinian mulai booming di Indonesia, berbagai brand seperti Kopi Kenangan dan Janji Jiwa mulai bermunculan dan memperluas jaringan outlet mereka.
Di tahap ini, pasar sudah mulai jenuh. Hampir semua orang yang membutuhkan produk tersebut sudah memilikinya, dan persaingan menjadi semakin ketat.
Strategi yang biasa digunakan:
Contoh:
Smartphone flagship seperti iPhone atau Samsung Galaxy sering mengalami tahap ini. Untuk mempertahankan daya tariknya, Apple dan Samsung terus merilis fitur baru setiap tahun meskipun perubahan yang ditawarkan tidak terlalu revolusioner.
Jika tidak ada inovasi atau perubahan strategi, permintaan terhadap produk akan mulai menurun. Bisa jadi karena tren berubah, teknologi berkembang, atau kompetitor menghadirkan solusi yang lebih baik.
Strategi yang biasa digunakan:
Dengan memahami siklus ini, brand bisa mengambil keputusan yang lebih strategis agar produk mereka tetap bertahan atau bahkan berkembang lebih jauh. Namun, bagaimana dengan brand itu sendiri? Apakah brand juga memiliki siklus hidup seperti produk?
Baca juga: 11 langkah marketing plan brand sukses di Indonesia
Sama seperti produk, brand juga memiliki siklus hidupnya sendiri. Brand Life Cycle (BLC) menggambarkan perjalanan sebuah brand dari pertama kali diluncurkan hingga mencapai puncak kesuksesan, atau bahkan menurun jika tidak dikelola dengan baik.
BLC memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah brand berkembang seiring waktu, dan mengapa pemahaman tentang fase-fase tersebut penting dalam strategi jangka panjang. Dengan mengerti BLC, perusahaan bisa lebih siap dalam merencanakan perbaikan atau penyesuaian strategi agar brand tetap relevan dan tumbuh di pasar yang kompetitif.
Di tahap ini, brand baru saja diperkenalkan ke pasar. Fokus utama adalah mengenalkan brand dan mencari positioning yang tepat agar bisa membedakan diri dari kompetitor. Pada tahap ini, brand mungkin belum memiliki pengikut atau pelanggan setia, dan perlu upaya yang besar untuk membangun kesadaran.
Setelah berhasil menarik perhatian pasar, brand mulai dikenal lebih luas. Pada tahap ini, brand mulai mendapatkan pelanggan setia dan meningkatkan volume penjualan. Ini adalah fase di mana brand harus mempertahankan momentum dan terus berinovasi agar tetap relevan dengan audiens.
Brand yang sudah mencapai tahap ini memiliki basis pelanggan yang loyal. Mereka sudah mapan di pasar, dan kompetisi mulai sangat ketat. Pada tahap ini, brand perlu terus menjaga kualitas dan relevansi produk atau layanan agar bisa mempertahankan pangsa pasarnya.
Di tahap terakhir ini, brand menghadapi dua pilihan: beradaptasi dan melakukan reinvention untuk tetap relevan, atau mengalami penurunan yang mengarah pada penurunan permintaan dan akhirnya pensiun. Banyak brand yang sukses melakukan reinvention dengan mengikuti tren baru dan beradaptasi dengan kebutuhan konsumen.
Contoh Brand yang Sukses Berevolusi melalui Setiap Tahap BLC:
Contoh nyata bisa mencakup brand seperti Apple, yang telah berhasil berinovasi dan bertahan di berbagai tahap BLC. Dari awalnya yang sederhana, Apple kini menjadi brand dengan basis pelanggan setia yang terus tumbuh.
Baca juga: Marketing Funnel: Pengertian, Model, dan Strategi Terbaik
Meskipun keduanya terkait erat, Product Life Cycle (PLC) dan Brand Life Cycle (BLC) memiliki perbedaan yang signifikan. PLC berfokus pada perjalanan produk individual, mulai dari peluncuran hingga penurunan permintaan.
Sementara itu, BLC berfokus pada keseluruhan perjalanan brand, yang bisa berlangsung jauh lebih lama dan melibatkan perubahan yang lebih mendalam dalam strategi dan citra brand itu sendiri.
Penting untuk memahami perbedaan ini karena meskipun produk bisa mengalami penurunan pada akhir siklus hidupnya, sebuah brand dapat tetap relevan dengan berinovasi dan beradaptasi sesuai dengan kebutuhan pasar.
| Aspek | Product Life Cycle (PLC) | Brand Life Cycle (BLC) |
| Fokus Utama | Fokus pada produk individu | Fokus pada keseluruhan brand |
| Durasi Siklus | Biasanya lebih pendek (beberapa tahun) | Bisa bertahan puluhan tahun dengan manajemen yang baik |
| Strategi yang Diterapkan | Strategi pemasaran berbeda untuk tiap tahap | Strategi branding jangka panjang dan lebih luas |
| Contoh | iPhone (produk) | Apple (brand) |
Perbandingan ini menyoroti bagaimana sebuah produk mungkin mengalami penurunan, tetapi brand itu sendiri bisa tetap eksis dan terus berinovasi untuk bertahan dalam jangka panjang.
Memahami perbedaan antara Product Life Cycle (PLC) dan Brand Life Cycle (BLC) sangat krusial untuk kelangsungan bisnis. Banyak bisnis terjebak dalam upaya menyelamatkan produk yang sudah menurun atau mengalami penurunan permintaan, padahal yang lebih penting adalah menjaga agar brand tetap relevan di pasar.
Ketika sebuah produk mencapai tahap Decline dalam PLC, bisnis seringkali merasa tertekan untuk terus mengandalkan produk tersebut tanpa melihat gambaran besar yaitu Brand Life Cycle. Padahal, dengan fokus pada evolusi brand, perusahaan dapat mengadaptasi diri dan menjaga keberlanjutan bisnis.
Strategi seperti rebranding, diversifikasi produk, dan inovasi sangat penting untuk memastikan brand tetap relevan meski ada produk yang mulai menurun. Misalnya, saat sebuah produk tidak lagi sesuai dengan tren atau kebutuhan pasar, brand dapat memperkenalkan produk baru yang relevan, sambil tetap menjaga citra dan posisi brand di hati konsumen.
Dengan memahami dan menerapkan strategi-strategi tersebut, sebuah brand bisa terus bertahan dan berkembang meski beberapa produk dalam siklus PLC-nya telah mengalami penurunan.
Memahami di tahap mana produk atau brand Anda berada adalah kunci untuk merencanakan strategi yang tepat. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengevaluasi dan mengelola perkembangan produk atau brand:
Untuk produk, berikut adalah cara untuk mengetahui tahap mana yang sedang Anda hadapi:
Apakah produk Anda baru diluncurkan dan masih dalam tahap edukasi pasar? Jika ya, fokuslah pada pengenalan dan branding yang kuat.
Apakah ada peningkatan permintaan? Jika iya, fokuskan usaha pada skalabilitas, penguatan distribusi, dan peningkatan fitur.
Apakah produk sudah mapan dan kompetisi semakin ketat? Lakukan diferensiasi produk dan inovasi untuk tetap relevan.
Apakah permintaan mulai menurun? Evaluasi strategi inovasi atau diversifikasi produk, atau pertimbangkan untuk menghentikan produk tersebut.
Untuk brand, Anda dapat mengevaluasi berdasarkan beberapa indikator berikut:
Apakah brand Anda baru mulai dikenal dan masih mencari positioning di pasar? Fokuskan pada penyampaian pesan brand yang jelas dan membangun awareness.
Apakah brand Anda mulai dikenal dan mendapatkan pelanggan setia? Fokus pada penguatan loyalitas pelanggan dan memperluas jangkauan pasar.
Apakah brand sudah mapan dan memiliki basis pelanggan yang solid? Fokus pada mempertahankan loyalitas pelanggan dan strategi pertumbuhan lebih lanjut.
Apakah brand Anda menghadapi stagnasi atau penurunan relevansi? Pertimbangkan untuk rebranding, diversifikasi, atau berinovasi agar tetap relevan.
Setelah mengetahui tahap mana yang sedang Anda hadapi, langkah-langkah berikut dapat membantu produk dan brand Anda terus berkembang:
Pastikan Anda selalu tahu tren dan preferensi konsumen. Hal ini membantu Anda tetap relevan di pasar yang terus berubah.
Jangan berhenti berinovasi. Terus beradaptasi dengan teknologi, perubahan preferensi konsumen, dan tantangan pasar.
Diversifikasi produk dan layanan Anda untuk mengurangi ketergantungan pada satu produk yang mungkin memasuki fase penurunan.
Meningkatkan pengalaman pelanggan akan membantu Anda mempertahankan loyalitas dan menciptakan hubungan jangka panjang dengan konsumen.
Memahami Product Life Cycle (PLC) dan Brand Life Cycle (BLC) sangat penting bagi bisnis untuk merencanakan strategi yang efektif dan berkelanjutan. Dengan mengetahui di tahap mana produk atau brand Anda berada, Anda dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga relevansi dan mengoptimalkan pertumbuhannya.
Jangan hanya fokus pada satu produk atau fase—kembangkan brand Anda agar bisa terus berkembang seiring waktu.
💡 Ingin strategi lebih lanjut untuk perkembangan produk dan brand Anda?
Subscribe ke Lifekit.id dan dapatkan insight terbaru untuk terus berkembang!