Lifekit.id logo long png 1

Product Life Cycle vs. Brand Life Cycle: Apa Bedanya?

marketing
Last updated: 
April 1, 2025
Product Life Cycle vs. Brand Life Cycle: Apa Bedanya?

Setiap produk memiliki siklus hidupnya sendiri. Dari pertama kali diperkenalkan ke pasar hingga akhirnya mengalami penurunan permintaan, semua produk akan melewati tahapan yang disebut Product Life Cycle (PLC). Inilah alasan mengapa bisnis sering kali berfokus pada strategi pemasaran yang sesuai dengan tahapan produk mereka.

Namun, ada satu hal yang sering diabaikan—Brand Life Cycle (BLC). Berbeda dengan siklus hidup produk, BLC menggambarkan bagaimana sebuah brand berkembang dan bertahan di pasar dalam jangka panjang. Sebuah brand yang kuat bisa terus relevan meskipun produk-produknya mengalami pergantian siklus.

Jadi, apa perbedaan antara Product Life Cycle dan Brand Life Cycle? Mana yang lebih penting? Dan bagaimana bisnis bisa memanfaatkannya untuk strategi yang lebih efektif? Artikel ini akan membahasnya secara lengkap.

2. Apa Itu Product Life Cycle (PLC)?

Sama seperti makhluk hidup, sebuah produk juga mengalami siklus hidup—mulai dari lahir, tumbuh, mencapai puncak kejayaan, hingga akhirnya mengalami penurunan. Konsep ini dikenal sebagai Product Life Cycle (PLC) atau siklus hidup produk.

Memahami PLC sangat penting karena dapat membantu bisnis menentukan strategi pemasaran, inovasi produk, dan keputusan bisnis lainnya agar tetap relevan di pasar.

Ilustrasi Product Life Cycle (PLC)

4 Tahap dalam Product Life Cycle

  1. Introduction (Pengenalan)

Pada tahap ini, produk baru pertama kali diperkenalkan ke pasar. Konsumen masih belum familiar dengan produk ini, sehingga upaya pemasaran berfokus pada edukasi dan awareness.

Strategi yang biasa digunakan:

  • Kampanye pemasaran untuk memperkenalkan produk.
  • Promosi besar-besaran untuk menarik perhatian konsumen awal.
  • Fokus pada keunggulan produk dibanding alternatif lain.

Contoh:

Saat Tesla pertama kali meluncurkan mobil listriknya, pasar masih belum terbiasa dengan teknologi ini. Tesla harus mengedukasi konsumen mengenai manfaat mobil listrik dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.

  1. Growth (Pertumbuhan)

Jika produk berhasil melewati tahap pertama, permintaan akan mulai meningkat pesat. Kompetitor pun mulai bermunculan, sehingga strategi diferensiasi menjadi sangat penting.

Strategi yang biasa digunakan:

  • Memperluas distribusi dan meningkatkan produksi.
  • Meningkatkan fitur atau varian produk.
  • Mulai membangun loyalitas pelanggan.

Contoh:

Saat kopi susu kekinian mulai booming di Indonesia, berbagai brand seperti Kopi Kenangan dan Janji Jiwa mulai bermunculan dan memperluas jaringan outlet mereka.

  1. Maturity (Masa Jenuh)

Di tahap ini, pasar sudah mulai jenuh. Hampir semua orang yang membutuhkan produk tersebut sudah memilikinya, dan persaingan menjadi semakin ketat.

Strategi yang biasa digunakan:

  • Rebranding atau inovasi kecil agar tetap menarik.
  • Menawarkan promo loyalitas untuk mempertahankan pelanggan.
  • Ekspansi ke pasar baru.

Contoh:

Smartphone flagship seperti iPhone atau Samsung Galaxy sering mengalami tahap ini. Untuk mempertahankan daya tariknya, Apple dan Samsung terus merilis fitur baru setiap tahun meskipun perubahan yang ditawarkan tidak terlalu revolusioner.

  1. Decline (Penurunan)

Jika tidak ada inovasi atau perubahan strategi, permintaan terhadap produk akan mulai menurun. Bisa jadi karena tren berubah, teknologi berkembang, atau kompetitor menghadirkan solusi yang lebih baik.

Strategi yang biasa digunakan:

  • Menarik produk dari pasar dan menggantinya dengan inovasi baru.
  • Menjual produk dengan harga diskon untuk segmen pasar yang berbeda.
  • Mengubah positioning produk agar tetap relevan.
  1. Contoh:
    Pemutar musik MP3 seperti iPod mengalami fase decline setelah smartphone hadir dengan fitur pemutar musik yang lebih praktis. Apple pun akhirnya menghentikan produksi iPod dan fokus pada iPhone.

Dengan memahami siklus ini, brand bisa mengambil keputusan yang lebih strategis agar produk mereka tetap bertahan atau bahkan berkembang lebih jauh. Namun, bagaimana dengan brand itu sendiri? Apakah brand juga memiliki siklus hidup seperti produk?

Baca juga: 11 langkah marketing plan brand sukses di Indonesia

3. Apa Itu Brand Life Cycle (BLC)?

Sama seperti produk, brand juga memiliki siklus hidupnya sendiri. Brand Life Cycle (BLC) menggambarkan perjalanan sebuah brand dari pertama kali diluncurkan hingga mencapai puncak kesuksesan, atau bahkan menurun jika tidak dikelola dengan baik.

BLC memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah brand berkembang seiring waktu, dan mengapa pemahaman tentang fase-fase tersebut penting dalam strategi jangka panjang. Dengan mengerti BLC, perusahaan bisa lebih siap dalam merencanakan perbaikan atau penyesuaian strategi agar brand tetap relevan dan tumbuh di pasar yang kompetitif.

4 Tahap dalam BLC:

  • Introduction: 

Di tahap ini, brand baru saja diperkenalkan ke pasar. Fokus utama adalah mengenalkan brand dan mencari positioning yang tepat agar bisa membedakan diri dari kompetitor. Pada tahap ini, brand mungkin belum memiliki pengikut atau pelanggan setia, dan perlu upaya yang besar untuk membangun kesadaran.

  • Growth: 

Setelah berhasil menarik perhatian pasar, brand mulai dikenal lebih luas. Pada tahap ini, brand mulai mendapatkan pelanggan setia dan meningkatkan volume penjualan. Ini adalah fase di mana brand harus mempertahankan momentum dan terus berinovasi agar tetap relevan dengan audiens.

  • Maturity: 

Brand yang sudah mencapai tahap ini memiliki basis pelanggan yang loyal. Mereka sudah mapan di pasar, dan kompetisi mulai sangat ketat. Pada tahap ini, brand perlu terus menjaga kualitas dan relevansi produk atau layanan agar bisa mempertahankan pangsa pasarnya.

  • Reinvention atau Decline: 

Di tahap terakhir ini, brand menghadapi dua pilihan: beradaptasi dan melakukan reinvention untuk tetap relevan, atau mengalami penurunan yang mengarah pada penurunan permintaan dan akhirnya pensiun. Banyak brand yang sukses melakukan reinvention dengan mengikuti tren baru dan beradaptasi dengan kebutuhan konsumen.

Contoh Brand yang Sukses Berevolusi melalui Setiap Tahap BLC:

Contoh nyata bisa mencakup brand seperti Apple, yang telah berhasil berinovasi dan bertahan di berbagai tahap BLC. Dari awalnya yang sederhana, Apple kini menjadi brand dengan basis pelanggan setia yang terus tumbuh.

Baca juga: Marketing Funnel: Pengertian, Model, dan Strategi Terbaik

4. Perbedaan Utama antara Product Life Cycle vs. Brand Life Cycle

Meskipun keduanya terkait erat, Product Life Cycle (PLC) dan Brand Life Cycle (BLC) memiliki perbedaan yang signifikan. PLC berfokus pada perjalanan produk individual, mulai dari peluncuran hingga penurunan permintaan. 

Sementara itu, BLC berfokus pada keseluruhan perjalanan brand, yang bisa berlangsung jauh lebih lama dan melibatkan perubahan yang lebih mendalam dalam strategi dan citra brand itu sendiri.

Penting untuk memahami perbedaan ini karena meskipun produk bisa mengalami penurunan pada akhir siklus hidupnya, sebuah brand dapat tetap relevan dengan berinovasi dan beradaptasi sesuai dengan kebutuhan pasar.

Apa bedanya Product Life Cycle vs. Brand Life Cycle?

AspekProduct Life Cycle (PLC)Brand Life Cycle (BLC)
Fokus UtamaFokus pada produk individuFokus pada keseluruhan brand
Durasi SiklusBiasanya lebih pendek (beberapa tahun)Bisa bertahan puluhan tahun dengan manajemen yang baik
Strategi yang DiterapkanStrategi pemasaran berbeda untuk tiap tahapStrategi branding jangka panjang dan lebih luas
ContohiPhone (produk)Apple (brand)

Contoh Nyata:

  • Apple (brand) vs iPhone (produk):
    • iPhone mengalami siklus PLC, yang dimulai dari tahap Introduction, diikuti dengan Growth, Maturity, dan akhirnya Decline karena setiap model baru menggantikan yang lama.
    • Namun, Apple (brand) tidak terhenti dengan satu produk. Mereka terus berinovasi dengan berbagai produk dan layanan baru, menjaga relevansi brand mereka meski beberapa produk mereka mungkin telah mengalami penurunan dalam siklus PLC-nya. Dengan cara ini, Apple berhasil menjaga Brand Life Cycle yang terus berkembang.

Perbandingan ini menyoroti bagaimana sebuah produk mungkin mengalami penurunan, tetapi brand itu sendiri bisa tetap eksis dan terus berinovasi untuk bertahan dalam jangka panjang.

5. Kenapa Memahami Keduanya Penting?

Memahami perbedaan antara Product Life Cycle (PLC) dan Brand Life Cycle (BLC) sangat krusial untuk kelangsungan bisnis. Banyak bisnis terjebak dalam upaya menyelamatkan produk yang sudah menurun atau mengalami penurunan permintaan, padahal yang lebih penting adalah menjaga agar brand tetap relevan di pasar.

Ketika sebuah produk mencapai tahap Decline dalam PLC, bisnis seringkali merasa tertekan untuk terus mengandalkan produk tersebut tanpa melihat gambaran besar yaitu Brand Life Cycle. Padahal, dengan fokus pada evolusi brand, perusahaan dapat mengadaptasi diri dan menjaga keberlanjutan bisnis.

Strategi seperti rebranding, diversifikasi produk, dan inovasi sangat penting untuk memastikan brand tetap relevan meski ada produk yang mulai menurun. Misalnya, saat sebuah produk tidak lagi sesuai dengan tren atau kebutuhan pasar, brand dapat memperkenalkan produk baru yang relevan, sambil tetap menjaga citra dan posisi brand di hati konsumen.

Beberapa langkah yang bisa diambil:

  • Rebranding: Perubahan citra atau positioning brand untuk lebih sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.
  • Diversifikasi Produk: Menambahkan produk baru yang memperkuat image dan daya tarik brand.
  • Inovasi Berkelanjutan: Terus mengembangkan produk dan fitur baru untuk mempertahankan posisi brand di pasar yang kompetitif.

Dengan memahami dan menerapkan strategi-strategi tersebut, sebuah brand bisa terus bertahan dan berkembang meski beberapa produk dalam siklus PLC-nya telah mengalami penurunan.

6. Mengetahui Tahap Product atau Brand Anda dan Langkah Berikutnya

Memahami di tahap mana produk atau brand Anda berada adalah kunci untuk merencanakan strategi yang tepat. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengevaluasi dan mengelola perkembangan produk atau brand:

6.1. Identifikasi Tahap Product Life Cycle (PLC)

Untuk produk, berikut adalah cara untuk mengetahui tahap mana yang sedang Anda hadapi:

  • Introduction

Apakah produk Anda baru diluncurkan dan masih dalam tahap edukasi pasar? Jika ya, fokuslah pada pengenalan dan branding yang kuat.

  • Growth

Apakah ada peningkatan permintaan? Jika iya, fokuskan usaha pada skalabilitas, penguatan distribusi, dan peningkatan fitur.

  • Maturity

Apakah produk sudah mapan dan kompetisi semakin ketat? Lakukan diferensiasi produk dan inovasi untuk tetap relevan.

  • Decline:

Apakah permintaan mulai menurun? Evaluasi strategi inovasi atau diversifikasi produk, atau pertimbangkan untuk menghentikan produk tersebut.

6.2. Identifikasi Tahap Brand Life Cycle (BLC)

Untuk brand, Anda dapat mengevaluasi berdasarkan beberapa indikator berikut:

  • Introduction

Apakah brand Anda baru mulai dikenal dan masih mencari positioning di pasar? Fokuskan pada penyampaian pesan brand yang jelas dan membangun awareness.

  • Growth

Apakah brand Anda mulai dikenal dan mendapatkan pelanggan setia? Fokus pada penguatan loyalitas pelanggan dan memperluas jangkauan pasar.

  • Maturity

Apakah brand sudah mapan dan memiliki basis pelanggan yang solid? Fokus pada mempertahankan loyalitas pelanggan dan strategi pertumbuhan lebih lanjut.

  • Reinvention atau Decline

Apakah brand Anda menghadapi stagnasi atau penurunan relevansi? Pertimbangkan untuk rebranding, diversifikasi, atau berinovasi agar tetap relevan.

6.3. Langkah yang Harus Diambil untuk Terus Berkembang

Setelah mengetahui tahap mana yang sedang Anda hadapi, langkah-langkah berikut dapat membantu produk dan brand Anda terus berkembang:

  • Lakukan Riset Pasar secara Berkala

Pastikan Anda selalu tahu tren dan preferensi konsumen. Hal ini membantu Anda tetap relevan di pasar yang terus berubah.

  • Inovasi Berkelanjutan

Jangan berhenti berinovasi. Terus beradaptasi dengan teknologi, perubahan preferensi konsumen, dan tantangan pasar.

  • Diversifikasi Portofolio

Diversifikasi produk dan layanan Anda untuk mengurangi ketergantungan pada satu produk yang mungkin memasuki fase penurunan.

  • Fokus pada Pengalaman Pelanggan

Meningkatkan pengalaman pelanggan akan membantu Anda mempertahankan loyalitas dan menciptakan hubungan jangka panjang dengan konsumen.

Kesimpulan

Memahami Product Life Cycle (PLC) dan Brand Life Cycle (BLC) sangat penting bagi bisnis untuk merencanakan strategi yang efektif dan berkelanjutan. Dengan mengetahui di tahap mana produk atau brand Anda berada, Anda dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga relevansi dan mengoptimalkan pertumbuhannya. 

Jangan hanya fokus pada satu produk atau fase—kembangkan brand Anda agar bisa terus berkembang seiring waktu.

💡 Ingin strategi lebih lanjut untuk perkembangan produk dan brand Anda?
Subscribe ke Lifekit.id dan dapatkan insight terbaru untuk terus berkembang!

Apakah kamu suka artikel ini?

Rata-rata 4.5 / 5. Jumlah vote: 2

Belum ada rating untuk artikel ini.

Table of Contents
Primary Item (H2)

Baca yang lainnya

Join the Smart Side of Learning

Gabung ke komunitas LifeKit untuk dapat insight-insight terbaru lainnya setiap minggu!
Subscribe
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram